Ia lantas beralih ke kepemimpinan korporat, menjabat CEO Cadence Design Systems, perusahaan pengembang software untuk merancang chip semikonduktor, dari 2009 hingga 2021. Selama masa jabatannya, pendapatan perusahaan naik dua kali lipat dan harga saham melonjak 3.200%.
Kesuksesannya dalam investasi teknologi dan kepemimpinan korporat menjadikannya miliarder. Bloomberg memperkirakan kekayaannya setidaknya USD 1,1 miliar pada Agustus 2025, dengan sebagian besar kekayaannya berasal dari Cadence. Ia bergabung dewan direksi Intel September 2022 sebelum menjadi CEO pada Maret 2025.
Tan berhubungan erat dengan almamaternya. Ia menjabat wali amanat NTU dari 2006 hingga 2011 dan menyumbang USD 3 juta di 2024 untuk membentuk jabatan profesor pertama di bidang AI. Perusahaannya bermitra dengan NTU untuk mendirikan Nanyang Frontier Fund, yang mendukung startup teknologi di universitas tersebut.
Saat berdiskusi dengan Presiden NTU, ia menekankan pentingnya kerendahan hati, berteman dengan orang berbakat, dan menumbuhkan budaya komunikasi jujur. Ia menasihati para calon pemimpin untuk mencari mentor yang baik dan menekuni pekerjaan yang benar-benar dinikmati, sembari mengibaratkan hidup seperti maraton, bukan sprint.
Ia mengatakan bahwa bermain basket semasa kuliah mengajarinya tentang pentingnya memercayai rekan satu tim, pelajaran yang ia terapkan untuk membangun budaya pemenang di Intel.
Berbeda dengan Lip-Bu Tan yang memulai kariernya di bidang modal ventura, eksekutif asal Singapura Irving Tan, 56 tahun, mengawali langkahnya di industri energi sebelum beralih ke bidang konsultasi dan kepemimpinan teknologi. Ia lulus dari NTU dengan gelar sarjana teknik mesin tahun 1995.
Pekerjaan pertamanya adalah di ExxonMobil, di mana ia memperoleh pengalaman di keuangan, penjualan, pemasaran, dan operasional. Di awal kariernya, ia sempat merasa frustrasi dengan praktik-praktik birokrasi.