NADIKABAR.COM — Angka pengangguran anak muda di China sedikit menurun pada September 2026. Meski sejumlah lulusan perguruan tinggi mulai mendapatkan pekerjaan, pencari kerja muda masih menghadapi pasar kerja yang sulit. Perusahaan kini semakin mempertimbangkan pengalaman kerja yang relevan, bukan sekadar kualifikasi akademik.
Mengutip South China Morning Post (SCMP), Rabu (21/10/2026), tingkat pengangguran penduduk berusia 16-24 tahun, tidak termasuk pelajar, turun menjadi 18% pada September dari 18,9% pada Agustus. Data tersebut dirilis Biro Statistik Nasional China.
Sekitar 12,7 juta lulusan perguruan tinggi memasuki pasar kerja tahun ini. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah. Pada Agustus, tingkat pengangguran anak muda China menyamai angka pada periode yang sama tahun lalu sekaligus menjadi salah satu level tertinggi sejak Beijing mengubah metode penghitungan pada 2023 dengan mengecualikan pelajar.
Di tengah lemahnya permintaan domestik dan ketatnya persaingan, pasar tenaga kerja China masih lesu pada bulan lalu.
Tang Qi, lulusan sarjana dari Fudan University dan magister dari University of Hong Kong, merasakan sulitnya mencari pekerjaan. Kedua kampus tersebut merupakan universitas terkemuka di China dan Hong Kong.
Sebelum mencari pekerjaan di bidang periklanan pada Juli, perempuan berusia 24 tahun itu telah menjalani magang di bidang akuntansi, periklanan, dan sumber daya manusia (SDM). Namun, ia hanya menerima sedikit panggilan wawancara kerja.
"Saya pikir magang di berbagai industri akan membantu saya mengetahui jenis pekerjaan yang ingin saya lakukan. Namun, ketika mencari pekerjaan, saya menyadari bahwa hal ini justru menjadi kelemahan karena perusahaan lebih menyukai kandidat yang telah menjalani beberapa kali magang di bidang yang sama," kata Tang.
Menurut dia, perusahaan ingin mendapatkan hasil maksimal dari karyawan baru. Mereka berharap karyawan bisa langsung bekerja secara efektif sehingga perusahaan tidak perlu menghabiskan waktu dan biaya untuk memberikan pelatihan dari awal.
Tang juga mengatakan perusahaan kerap mempertanyakan keputusannya mengambil jeda setahun setelah lulus kuliah sebelum mencari pekerjaan.
"Saya khawatir mereka akan melihatnya sebagai tanda bahwa saya tidak cukup tangguh," ujarnya.
Tekanan di pasar tenaga kerja menjadi perhatian pemerintah China karena penyerapan tenaga kerja merupakan salah satu indikator utama kesehatan ekonomi. Perkembangan kecerdasan buatan (AI) juga menambah kekhawatiran terkait prospek pekerjaan.
Pada Juni, Beijing meluncurkan strategi employment-first untuk periode 2026-2030. Pemerintah berjanji memanfaatkan AI untuk menciptakan lapangan kerja dan mendorong kewirausahaan. China juga berupaya mengembangkan industri baru, termasuk sektor kelautan, sebagai sumber pertumbuhan lapangan kerja.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, sejumlah lulusan perguruan tinggi memilih mengikuti program pelatihan vokasi jangka pendek untuk mempelajari keterampilan praktis, seperti pelabelan data AI, demi meningkatkan peluang mendapatkan pekerjaan. Sebagian lainnya beralih ke pekerjaan berbasis gig atau pekerjaan lepas seiring menyempitnya peluang meniti karier melalui jalur konvensional.
Sementara itu, tingkat pengangguran penduduk berusia 25-29 tahun, tidak termasuk pelajar, tercatat sebesar 7,4% pada September. Angka tersebut turun tipis dari 7,5% pada Agustus. Secara keseluruhan, tingkat pengangguran di wilayah perkotaan China turun menjadi 5,2% pada September dari 5,3% pada bulan sebelumnya.