NADIKABAR.COM — Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) mendorong semakin banyak inovasi yang mampu membawa perubahan nyata bagi masyarakat melalui Mandaya Awards dan Innovilleague 2026.

"Tahun ini, perhelatan tersebut menarik sebanyak 764 aktivitas dan inovasi yang melibatkan sekitar 1.600 penggerak, menunjukkan besarnya potensi gerakan pemberdayaan yang tumbuh di berbagai daerah," kata Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Kemenko PM Abdul Haris dalam siaran pers Kemenko PM di Jakarta, Rabu.

Menurutnya, pemberdayaan tidak cukup berhenti pada pemberian bantuan.

"Kita tidak ingin memberikan bantuan terus-menerus, tetapi mengubah paradigma, bahwa bantuan harus diupayakan menuju pemberdayaan," kata Abdul.

Masyarakat perlu didukung agar memiliki keterampilan, kesempatan, dan akses untuk mengembangkan potensi serta membangun kemandirian ekonomi.

Oleh karena itu, inovasi yang lahir dari masyarakat maupun perguruan tinggi perlu didorong agar memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan.

Untuk itu, sejak tahun 2025, Kemenko PM menggelar penganugerahan Mandaya Awards sebagai pengakuan terhadap pemberdayaan yang dilakukan pemerintah daerah, swasta, perguruan tinggi, maupun organisasi masyarakat, serta kompetisi Innovilleague untuk mendorong inovasi pemberdayaan masyarakat desa oleh para mahasiswa.

Menurut Haris, perguruan tinggi dan mahasiswa memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat.

Melalui inovasi, penerapan ilmu pengetahuan, dan pendampingan langsung, kampus diharapkan dapat membantu masyarakat mengembangkan potensi lokal, memperkuat usaha, serta menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi.

Seleksi Mandaya Awards dan Innovilleague 2026 melibatkan pakar lintas lembaga, termasuk Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BRIN), akademisi, dan mitra pemberdayaan, dengan dukungan Forum Rektor Indonesia (FRI) serta Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI).

Penilaian berfokus pada dampak nyata, inovasi, keterlibatan masyarakat, dan keberlanjutan program.

Kemenko PM juga mendorong agar praktik pemberdayaan yang terbukti berhasil tidak berhenti di satu desa atau komunitas.

"Inovasi tersebut perlu dibagikan, dikembangkan, dan direplikasi di wilayah lain agar semakin banyak masyarakat merasakan manfaatnya," katanya.

Melalui Mandaya Awards dan Innovilleague 2026, Kemenko PM ingin memperkuat kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat dalam menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperluas kesempatan, memperkuat kemandirian ekonomi, dan mempercepat pengentasan kemiskinan.