NADIKABAR.COM — Perdana Menteri (PM) Jepang, Sanae Takaichi, marah atas dugaan pembunuhan seorang wanita yang dilakukan seorang personel Marinir Amerika Serikat (AS) di Okinawa. Takaichi mengecamnya sebagai "kejahatan keji", dan telah melayangkan protes kepada otoritas Washington.
Berbagai tindak kejahatan yang dilakukan personel militer AS yang ditugaskan di Jepang telah sejak lama memicu protes, terutama di area Okinawa, yang menanggung beban berat karena menampung sekitar 70 persen fasilitas militer Amerika.
Rentetan tindak kejahatan oleh tentara AS itu tergolong beragam, mulai dari pemerkosaan, penganiayaan, tabrak lari, hingga mengemudi dalam keadaan mabuk.
Kasus terbaru ini melibatkan seorang personel Marinir AS yang ditugaskan di Okinawa, yang telah ditangkap oleh kepolisian setempat atas dugaan membunuh seorang wanita berusia 39 tahun di sebuah hotel di Naha dan mencuri dompet korban.
Takaichi, seperti dilansir AFP, Senin (5/10/2026), mengatakan bahwa pemerintah telah melayangkan protes keras kepada AS. Dia mendesak adanya "kerja sama penuh dalam penyelidikan" dan "penegakan disiplin yang ketat di kalangan personel militer AS".
"Terjadinya kejahatan keji semacam ini sangatlah disesalkan," ujar Takaichi saat berbicara di hadapan anggota parlemen Jepang pada Senin (5/10).
Secara terpisah, kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara mengatakan kepada wartawan bahwa "pemerintah akan bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk memastikan secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang kembali, dan mengurangi beban warga setempat".
Kabar mengenai penangkapan personel Marinir AS itu, sebut Kihara, segera mendorong Menteri Luar Negeri (Menlu) Toshimitsu Motegi dan Menteri Pertahanan (Menhan) Jepang Shinjiro Koizumi untuk memanggil para pejabat senior AS guna menyampaikan "kekecewaan mendalam" dan melayangkan protes keras".
Sekitar 100 orang berunjuk rasa di Naha pada Minggu (4/10), membawa poster bertuliskan seruan-seruan "protes keras" mereka terhadap dugaan pembunuhan tersebut.