NADIKABAR.COM — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyatakan keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu parameter pemberian insentif kepada pemerintah daerah (Pemda) sebesar Rp 1 triliun. Kebijakan ini berlaku mulai tahun depan.

Sudaryono mengatakan insentif tersebut bukan hanya untuk program MBG, melainkan sebagai tambahan indikator bagi Pemda atas seluruh program yang selama ini berhasil dijalankan.

"Jadi Rp 1 triliun itu adalah insentif yang disediakan oleh Kementerian Dalam Negeri, bukan kemudian khusus untuk yang MBG saja. Rp 1 triliun insentif yang disediakan oleh Kemendagri itu untuk keberhasilan program atau indikator Pemda yang selama ini sudah jalan," kata Sudaryono Jumat (30/10/2026).

Sudaryono menjelaskan, selama ini pemerintah sudah memberikan insentif khusus bagi daerah yang berhasil meningkatkan atau menurunkan beberapa indikator keberhasilan pembangunan, misalnya angka inflasi.

"Misalnya daerah dengan tingkat inflasi yang terbaik di satu region, itu nanti juaranya dikasih insentif Rp 2-3 miliar gitu. Jadi Rp 1 triliun itu jumlah semua, MBG tahun depan itu menjadi salah satu parameternya," ujar dia.

Sudaryono menegaskan parameter pemberian insentif tetap menganut pada peraturan dari Kemendagri di antaranya tingkat inflasi, penurunan tingkat pengangguran, atau penurunan tingkat kemiskinan.

"Nah, ada satu lagi indikator yaitu bagaimana ini yang sedang kita define (susun) dengan BGN, indikatornya apa? Indikatornya apakah misalnya penurunan angka stunting misalnya, atau misalnya indikatornya adalah apa? Keberhasilan dari pelayanan MBG misalnya, atau apa, ini yang sedang kita siapkan. Jadi Rp 1 triliun itu bukan hanya khusus untuk MBG, melainkan menambah kriteria baru, menambahkan yang selama ini sudah jalan," paparnya.

Ia menyampaikan target MBG ke depan yakni programnya tidak bisa hanya besar, tetapi targetnya juga harus dipenuhi, dengan menu MBG yang berkualitas dan dapat diterima dengan baik.

"Sehingga anak-anak tumbuh dan berkembang dengan baik karena MBG ini bukan program yang dikasih makan hari ini-besok, langsung kemudian kelihatan indikatornya. Ini adalah long-term development (pembangunan jangka panjang)," ucap Sudaryono.