NADIKABAR.COM — Medan magnet Bumi selama ini lebih dikenal sebagai pelindung planet dari partikel bermuatan Matahari. Namun, penelitian terbaru menemukan petunjuk bahwa medan magnet alami Bumi mungkin juga berhubungan dengan proses biologis yang lebih mendasar, termasuk penuaan dan fungsi sel makhluk hidup di Bumi.

Peneliti dari University of Nottingham menemukan bahwa dengan mengurangi hampir seluruh efek medan magnet Bumi di sekitar lalat buah dapat mengubah fungsi mitokondria, produksi radikal bebas, kemampuan bergerak, hingga masa hidupnya.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Aging pada 23 September 2026 dengan judul 'Hypomagnetic fields modulate lifespan, physical ability and mitochondrial metabolism in a Pink1 model of neurodegeneration'.

Namun, ada catatan penting. Penelitian ini dilakukan pada lalat buah jantan (Drosophila melanogaster), bukan manusia. Jadi, hasilnya belum bisa digunakan untuk menyimpulkan bahwa medan magnet Bumi menentukan umur manusia.

Para peneliti menempatkan lalat buah di dalam perangkat pelindung magnet khusus. Medan magnet di dalam perangkat tersebut diturunkan hingga sekitar 0,0056 mikrotesla atau 5,6 nanotesla.

Sebagai perbandingan, medan magnet Bumi secara umum berada di kisaran 25-60 mikrotesla, tergantung lokasi. Kondisi dengan medan magnet yang sangat lemah seperti eksperimen ini disebut hypomagnetic field (HMF).

Peneliti kemudian membandingkan lalat normal dengan lalat yang memiliki mutasi pada gen Pink1. Mutasi pada PINK1 pada manusia diketahui berkaitan dengan bentuk Parkinson yang dapat muncul pada usia relatif muda.

Gen PINK1 berperan dalam menjaga kualitas mitokondria. Ketika fungsinya terganggu, sel lebih sulit membersihkan mitokondria yang rusak. Kondisi tersebut kemudian dapat memengaruhi produksi energi dan fungsi sel.

"Kita menjalani seluruh hidup di dalam medan magnet Bumi. Medan ini melewati tubuh kita, sel-sel kita, dan setiap organisme hidup di planet ini, tetapi kita ternyata hanya tahu sedikit tentang apakah dan bagaimana gaya tak kasatmata ini memengaruhi cara kerja sel kita," kata Lisa Chakrabarti, peneliti senior dalam studi tersebut, dikutip dari The Brighter Side News.

Hasil paling menarik muncul pada lalat yang membawa mutasi Pink1. Ketika lalat tersebut ditempatkan dalam kondisi medan magnet sangat lemah selama 20 hari, risiko kematiannya turun sekitar setengah dibandingkan lalat mutan yang tetap berada dalam medan magnet Bumi normal.

Secara keseluruhan, peneliti melaporkan adanya peningkatan masa hidup sekitar 20% pada kelompok lalat mutan tersebut. Namun, hidup lebih lama tidak berarti semua indikator kesehatan membaik.

Lalat mutan yang berada dalam medan magnet sangat lemah justru mengalami penurunan kemampuan memanjat pada sejumlah usia pengamatan. Dengan kata lain, mereka bertahan hidup lebih lama, tetapi performa fisiknya memburuk.

Respons lalat normal bahkan berbeda. Paparan medan magnet yang sangat lemah meningkatkan kemampuan memanjat pada beberapa usia pengamatan, sementara perubahan risiko kematiannya tidak terbukti signifikan secara statistik.

Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh medan magnet tidak sederhana. Efeknya dapat bergantung pada kondisi biologis organisme. Lalu, apa hubungannya medan magnet dengan penuaan?

Peneliti melihat ke mitokondria, organel yang berfungsi menghasilkan sebagian besar energi yang dapat digunakan sel. Dalam eksperimen, kondisi medan magnet sangat lemah meningkatkan aktivitas kompleks II pada mitokondria lalat normal. Kompleks II merupakan bagian dari sistem transport elektron sekaligus berperan dalam siklus asam sitrat.

Peneliti menduga perubahan tersebut merupakan respons sel terhadap tekanan lingkungan. Pada lalat dengan mutasi Pink1, perubahan metabolisme melalui kompleks II berpotensi membantu mengompensasi sebagian gangguan pada fungsi mitokondria. Namun, peneliti menegaskan bahwa mekanisme tersebut masih berupa hipotesis, bukan mekanisme terapi yang sudah terbukti.

Tim juga menemukan perubahan pada produksi radikal bebas atau reactive oxygen species (ROS) setelah medan magnet Bumi hampir dihilangkan. Untuk mengukurnya, peneliti menggunakan sensor kuantum berbasis nanodiamond yang memiliki cacat mikroskopis bernama *nitrogen-vacancy center. Teknologi tersebut memungkinkan peneliti mendeteksi perubahan molekul reaktif di sekitar sistem yang diamati.

Pada lalat Pink1, paparan medan magnet sangat lemah meningkatkan kadar radikal bebas dalam kondisi respirasi normal dibandingkan kelompok kontrol. Radikal bebas sering dikaitkan dengan kerusakan sel. Namun, molekul ini juga berfungsi sebagai sinyal biologis, sehingga peningkatannya tidak selalu berarti kerusakan.

Para peneliti menduga perubahan ROS mungkin memicu mekanisme kompensasi yang memengaruhi pengelolaan kualitas mitokondria dan kelangsungan hidup. Penelitian ini memang membuka kemungkinan bahwa medan magnet merupakan salah satu faktor lingkungan yang berinteraksi dengan metabolisme sel. Tetapi bukti tersebut masih berada pada tahap awal.

Penelitian hanya menggunakan lalat buah jantan, sedangkan lalat dengan mutasi Pink1 hanya meniru sebagian karakteristik Parkinson pada manusia, bukan keseluruhan penyakit tersebut. Selain itu, sebagian eksperimen fungsi mitokondria menggunakan jumlah sampel yang relatif kecil.

Para peneliti juga belum menemukan bukti bahwa mengurangi medan magnet Bumi pada manusia dapat memperbaiki penyakit neurodegeneratif.

Justru hasil penelitian memperlihatkan sesuatu yang lebih kompleks, medan magnet yang sangat lemah bisa menghasilkan efek berbeda tergantung kondisi biologis organisme. Pada lalat normal, beberapa efek justru merugikan, sementara pada model Parkinson tertentu terdapat peningkatan masa hidup.

Karena itu, temuan ini belum bisa diterjemahkan menjadi terapi atau metode memperpanjang usia manusia. Yang ditunjukkan penelitian tersebut adalah kemungkinan baru bahwa medan magnet Bumi yang selama ini dianggap sekadar bagian dari lingkungan fisik planet ternyata mungkin berinteraksi dengan mitokondria, metabolisme, dan proses penuaan.

Para ilmuwan masih perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana mekanisme tersebut bekerja dan apakah fenomena serupa benar-benar terjadi pada organisme yang lebih kompleks, termasuk manusia.