Di era digital saat ini, lanskap kognitif manusia dibanjiri rangsangan yang memicu emosi kuat—seperti kemarahan, ketakutan, atau kebencian. Akibatnya, kapasitas penalaran kompleks menurun dan individu menjadi lebih rentan terhadap narasi-narasi sederhana yang sekadar mengonfirmasi bias mereka.

Agus Bhakti menegaskan bahwa senjata dalam perang kognitif bukan lagi bahan peledak, melainkan narasi, visual, dan disinformasi yang disebarkan melalui jaringan informasi global. Teknologi digital memungkinkan penargetan mikro berbasis profil psikologis, sementara algoritma media sosial bertindak sebagai akselerator penyebaran narasi yang memecah belah.

​Pikiran manusia kini telah menjadi medan pertempuran itu sendiri. Konflik telah berevolusi dari perebutan wilayah fisik menjadi pertarungan memperebutkan realitas perseptual. Pihak yang mampu membentuk pemahaman dunia bagi audiens terbesar dialah yang akan mencapai dominasi strategis. "Kerusakan pada domain ini meliputi erosi kepercayaan, hilangnya realitas kolektif, dan degradasi akal sehat (common sense) yang jauh lebih sulit diperbaiki daripada kerusakan infrastruktur fisik," tulisnya dalam buku tersebut.

​Salah satu hal paling menarik dari buku bersampul hijau tua dengan gradasi hitam dan ilustrasi siluet kepala manusia ini adalah taburan kutipannya. Di berbagai halaman, kutipan-kutipan pilihan mengajak pembaca untuk tetap berpikir jernih di tengah kepungan hoaks yang berseliweran di media sosial.