NADIKABAR.COM — Siapa yang tidak tahu Pertempuran Stalingrad?
Peristiwa ini tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pertempuran paling ikonik, brutal, dan menentukan jalan peradaban manusia. Selama 6 bulan, 2 minggu, dan 2 hari, tepatnya sejak 17 Juli 1942 hingga 2 Februari 1943, Uni Soviet dan Nazi Jerman saling gempur demi merebut dominasi.
Kehancuran fisik begitu nyata terasa akibat perebutan jengkal demi jengkal wilayah. Akibat pertempuran yang teramat brutal tersebut, diperkirakan antara 1,1 juta hingga 3 juta jiwa, terdiri atas pasukan kedua belah pihak serta warga sipil, meregang nyawa.
Stalingrad menjadi puncak dari Perang Konvensional era modern yang mengandalkan superioritas pesawat tempur, tank, dan mesiu.
Kita tengah menghadapi jenis pertempuran baru dengan daya rusak yang tidak kalah destruktif. Pertempuran masa kini tidak lagi memperebutkan wilayah geografis, melainkan ruang psikologis manusia. Bentuk pertarungan baru itu bernama Cognitive Warfare atau Perang Kognitif, yang secara harfiah diartikan sebagai "Perang Memperebutkan Pikiran Manusia".
Melalui bukunya yang berjudul Perang Kognitif: Eskalasi Digital, Demonstrasi, dan Demokrasi Indonesia 2025, Brigjen TNI Dr. Agus Bhakti menggambarkan betapa dampak dari "Stalingrad Era Baru" ini dapat jauh lebih mengerikan.
Dengan bahasa yang lugas, Agus Bhakti menjelaskan bahwa fokus utama perang kognitif terletak pada cara otak memproses data, bukan sekadar isi pesan seperti pada perang informasi konvensional. Mekanisme utamanya mencakup pembingkaian (framing), penentuan agenda (agenda setting), pengondisian, penargetan mikro (microtargeting), penggunaan konten multimodal, sinkronisasi antarkanal, penguatan algoritma lintas platform, hingga orkestrasi narasi oleh aktor negara maupun nonnegara.
Arena pertempuran dalam perang kognitif bertumpu pada ketepatan, skala, kecepatan sasaran, serta jangkauan penyebaran informasi digital. Algoritma bertugas meningkatkan visibilitas narasi tertentu. Sebagai contoh, format video pendek serta fitur penyuntingan di Facebook dan Instagram makin mempercepat replikasi dan sirkulasi konten. Pada akhirnya, kondisi ini memudahkan jejaring akun untuk membangun ritme dan keserempakan dalam menyebarkan pesan.
Tak hanya itu, Agus Bhakti menyoroti kemampuan microtargeting dalam menyesuaikan pesan dan feed media sosial dengan kerentanan psikologis sasaran, didukung sifat interoperabilitas platform yang mampu mengeksploitasi emosi lintas ruang digital. Fokus pertempuran pun bergeser: dari sekadar apa isi pesannya menjadi bagaimana otak memprosesnya dan bagaimana jaringan menyebarkannya. Alhasil, manipulasi kognitif menjadi tujuan utama pertempuran, bukan lagi sekadar efek samping.
Di era digital saat ini, lanskap kognitif manusia dibanjiri rangsangan yang memicu emosi kuat—seperti kemarahan, ketakutan, atau kebencian. Akibatnya, kapasitas penalaran kompleks menurun dan individu menjadi lebih rentan terhadap narasi-narasi sederhana yang sekadar mengonfirmasi bias mereka.
Agus Bhakti menegaskan bahwa senjata dalam perang kognitif bukan lagi bahan peledak, melainkan narasi, visual, dan disinformasi yang disebarkan melalui jaringan informasi global. Teknologi digital memungkinkan penargetan mikro berbasis profil psikologis, sementara algoritma media sosial bertindak sebagai akselerator penyebaran narasi yang memecah belah.
Pikiran manusia kini telah menjadi medan pertempuran itu sendiri. Konflik telah berevolusi dari perebutan wilayah fisik menjadi pertarungan memperebutkan realitas perseptual. Pihak yang mampu membentuk pemahaman dunia bagi audiens terbesar dialah yang akan mencapai dominasi strategis. "Kerusakan pada domain ini meliputi erosi kepercayaan, hilangnya realitas kolektif, dan degradasi akal sehat (common sense) yang jauh lebih sulit diperbaiki daripada kerusakan infrastruktur fisik," tulisnya dalam buku tersebut.
Salah satu hal paling menarik dari buku bersampul hijau tua dengan gradasi hitam dan ilustrasi siluet kepala manusia ini adalah taburan kutipannya. Di berbagai halaman, kutipan-kutipan pilihan mengajak pembaca untuk tetap berpikir jernih di tengah kepungan hoaks yang berseliweran di media sosial.