Jumlah saja tidak memadai. Dalam forum KKI, Benjamin menandaskan pemenuhan tenaga kesehatan harus memastikan jenis dan kompetensinya sesuai kebutuhan layanan, serta sebarannya merata. Ia meminta pengembangan profesi berkelanjutan diarahkan pada kemampuan nyata, alih-alih sekadar mengejar angka kredit, termasuk penguasaan kecerdasan artifisial, telemedisin, dan rekam medis elektronik.

Bagi tenaga yang bertugas di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK) serta daerah bermasalah kesehatan (DBK), peningkatan kompetensi dapat ditempuh lewat pelatihan daring, pembelajaran campuran, dan pendampingan rumah sakit rujukan. Enam arahan yang disampaikan, antara lain perencanaan kebutuhan berbasis data dan penegakan disiplin yang adil, bertalian langsung dengan upaya itu.

Arah serupa juga menjadi perhatian dalam tiga pilar Konferensi AAAH, yakni kepemimpinan dan tata kelola, pendidikan berkualitas beserta kesejahteraan tenaga kesehatan sepanjang kariernya, serta transformasi digital yang inklusif. Benjamin menyatakan investasi pada sumber daya manusia kesehatan harus menjadi prioritas setiap negara, dan Indonesia siap memperkuat kerja sama kawasan.

Direktur Regional WHO untuk Pasifik Barat Saia Ma'u Piukala, yang pernah berpraktik sebagai dokter bedah, menekankan pelindungan bagi tenaga kesehatan melalui kondisi kerja yang layak, pengembangan karier, dan kesejahteraan.

Didirikan pada 2005 dengan 10 negara anggota, AAAH, kini merangkul 22 negara di Asia-Pasifik. Konferensi di Bali menargetkan rekomendasi kebijakan untuk memperkuat perencanaan tenaga kesehatan, meningkatkan keselamatan dan kesejahteraan mereka, serta memperluas inovasi digital, yang diharapkan menjadi acuan bagi negara-negara anggota.