NADIKABAR.COM — Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengakui harga aneka cabai sedang mengalami kenaikan. Penyebabnya adalah faktor cuaca berupa kemarau panjang hingga berdampak terhadap penurunan produksi.

"Memang cabai rawit, kemudian cabai keriting, cabai rawit merah sedikit mengalami kenaikan. Itu karena memang faktor cuaca," kata Budi saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2026).

Meski demikian, Budi mengklaim harga sejumlah komoditas pangan masih stabil secara nasional. Hanya saja distribusi yang belum merata menyebabkan harga di sejumlah daerah mengalami kenaikan.

Guna mengatasi persoalan tersebut, pemerintah berupaya membantu pengiriman komoditas dari daerah yang mengalami surplus ke wilayah yang membutuhkan pasokan.

"Walaupun demikian kan tetap ada yang surplus karena cabai ini diproduksi di daerah tertentu. Makanya kemarin yang kita lakukan adalah dengan membantu pengiriman," tutur Budi.

Budi menyampaikan pihaknya telah mengirim pasokan cabai 7 ton dari Jawa Timur ke Halmahera sebagai langkah menstabilkan harga. Upaya serupa juga dilakukan untuk komoditas telur ayam ras.

"Kemarin kita ngirim (cabai) ke Halmahera ya, kan kita ngirim 7 ton dari Jawa Timur karena Jawa Timur surplus cabai. Jadi kerja sama kita dengan Bappanas, kerja sama dengan BI dan pemerintah daerah," ujarnya.

"Apalagi telur ini sekarang kan harga rerata nasional itu Rp 26.400 per kg, harga acuan kan Rp 30.000, artinya sementara ada daerah tertentu yang distribusinya agak susah, itu naik sehingga kita akan kirim ke daerah-daerah yang harganya lebih tinggi sehingga harga menjadi stabil," tambahnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan kenaikan harga sejumlah komoditas pangan terutama cabai merah, cabai rawit dan tomat menjadi pendorong utama inflasi pada Oktober 2026 yang mencapai 0,22% secara bulanan (month-to-month/mtm).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan komoditas yang masuk kelompok makanan, minuman dan tembakau itu mengalami inflasi sebesar 0,51% dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,15%.

"Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini terutama cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,13%. Berikutnya cabai rawit dengan andil inflasi sebesar 0,05%, serta tomat dengan andil inflasi sebesar 0,04%," jelas Ateng dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (2/10).