NADIKABAR.COM — Kemudahan mengakses layanan keuangan melalui ponsel membuat pinjaman online (pinjol) semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk bagi kalangan anak muda. Proses pengajuan yang praktis, pencairan dana relatif cepat, hingga kebutuhan mendadak menjadi sejumlah alasan layanan tersebut digunakan.
Meski kerap dikaitkan dengan perilaku konsumtif, penggunaan pinjol tidak selalu berawal dari keinginan membeli barang untuk mengikuti tren. Sebagian orang memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar tagihan, mencicil barang, hingga menghadapi kondisi keuangan yang tidak terduga.
Namun, kemudahan memperoleh pinjaman juga menyimpan risiko. Tanpa perhitungan kemampuan membayar, pinjaman yang awalnya dianggap sebagai solusi jangka pendek dapat berkembang menjadi beban keuangan berkepanjangan.
Lantas, apa saja alasan anak muda menggunakan pinjol dan hal apa yang perlu diperhatikan sebelum mengajukan pinjaman?
Alasan anak muda menggunakan pinjol
Penggunaan pinjol di kalangan anak muda tidak terlepas dari perubahan kebiasaan transaksi keuangan yang semakin digital. Layanan pinjaman dapat diakses melalui aplikasi sehingga pengajuan tidak selalu mengharuskan calon peminjam datang langsung ke kantor lembaga keuangan.
Survei Jakpat pada paruh kedua 2025 terhadap 2.089 responden dari kelompok Gen Z, milenial, dan Gen X menemukan bahwa 11 persen responden menggunakan pinjaman online. Dalam survei tersebut, Gen Z juga tercatat sebagai kelompok yang paling rentan menggunakan layanan pinjaman digital.
Berikut sejumlah alasan yang mendorong anak muda menggunakan pinjol.
1. Proses pengajuan mudah dan cepat
Kemudahan menjadi salah satu daya tarik utama pinjol. Calon peminjam dapat mengajukan pinjaman melalui ponsel tanpa harus mendatangi kantor penyedia layanan.
Survei Jakpat menunjukkan, 61 persen responden memilih pinjaman online karena proses pengajuannya cepat dan sederhana. Sementara itu, 57 persen tertarik karena persyaratan pengajuan dinilai lebih mudah.
Kondisi tersebut membuat pinjol terlihat praktis, terutama bagi anak muda yang membutuhkan dana dalam waktu relatif singkat. Namun, kemudahan pengajuan tidak berarti kewajiban pembayaran dapat dianggap ringan.
2. Membutuhkan dana dalam waktu mendesak
Kebutuhan mendadak juga menjadi alasan seseorang menggunakan pinjaman online. Pengeluaran untuk kesehatan, kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan, atau keperluan lain terkadang muncul ketika kondisi keuangan sedang terbatas.
Dalam survei Jakpat, sebanyak 55 persen pengguna pinjol dari kelompok Gen Z mengaku memanfaatkannya untuk kebutuhan mendesak.
Meski demikian, pinjaman tetap perlu diperhitungkan berdasarkan kemampuan membayar. Menggunakan utang untuk kebutuhan darurat tanpa memperhitungkan pendapatan berikutnya dapat menimbulkan persoalan keuangan baru.
Sebagian anak muda menggunakan pinjaman digital bukan hanya untuk membeli barang mahal, melainkan juga memenuhi kebutuhan rutin.
Survei Jakpat mencatat 56 persen pengguna pinjol dari kelompok Gen Z menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari. Sebanyak 42 persen lainnya memanfaatkan layanan tersebut untuk membayar tagihan.
Hal ini dapat terjadi ketika pengeluaran bulanan lebih besar daripada pendapatan atau ketika seseorang belum memiliki dana darurat yang cukup.
Jika pinjaman terus digunakan untuk menutup kebutuhan rutin, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian. Sebab, utang yang digunakan berulang kali untuk membiayai pengeluaran sehari-hari berisiko membuat keuangan semakin sulit dikendalikan.
4. Tidak memiliki dana yang cukup untuk membeli barang
Keinginan memiliki ponsel terbaru, pakaian, perangkat elektronik, atau barang lain terkadang tidak sejalan dengan kemampuan finansial.