Pinjaman online dan layanan pembayaran kemudian menjadi alternatif bagi sebagian anak muda yang ingin memperoleh barang tanpa harus membayar seluruh harganya sekaligus.
Fenomena tersebut juga berkaitan dengan kebiasaan belanja digital. Kemudahan transaksi dan penawaran cicilan dapat membuat seseorang lebih mudah mengambil keputusan pembelian tanpa mempertimbangkan total kewajiban yang harus dibayar.
Diskon, cashback, dan penawaran cicilan menjadi faktor lain yang dapat mendorong penggunaan layanan kredit digital.
Sebagian konsumen menganggap transaksi dengan cicilan lebih menguntungkan karena dapat membagi pembayaran ke beberapa periode. Padahal, potongan harga belum tentu membuat pembelian menjadi lebih hemat apabila barang tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan.
Laporan The Straits Times pada Mei 2026 menggambarkan bagaimana promosi pembayaran cicilan dapat mendorong anak muda melakukan pembelian berulang. Dalam salah satu kasus yang diberitakan, seorang pekerja berusia 28 tahun awalnya menggunakan layanan buy now, pay later untuk membeli pakaian, kemudian mengambil pinjaman dari beberapa aplikasi untuk membayar cicilan sebelumnya.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa promosi dan kemudahan transaksi dapat menjadi pemicu perilaku konsumtif apabila tidak disertai perencanaan keuangan.
6. Belum memiliki akses kredit konvensional
Sebagian anak muda yang baru memasuki dunia kerja belum memiliki riwayat kredit atau dokumen pendukung yang dibutuhkan untuk mengajukan pinjaman melalui lembaga keuangan konvensional.
Dalam kondisi tersebut, layanan pinjaman digital dapat terlihat sebagai alternatif karena proses pengajuannya dilakukan secara daring dan persyaratannya relatif sederhana.
Namun, kemudahan akses tersebut tetap harus diimbangi dengan pemahaman mengenai bunga, biaya administrasi, tenor, denda keterlambatan, dan total pembayaran.
7. Pengaruh lingkungan dan gaya hidup digital
Kebiasaan mengikuti tren, melihat promosi di media sosial, hingga pengaruh lingkungan pertemanan juga dapat memengaruhi keputusan finansial anak muda.
Keinginan untuk memiliki barang yang sama dengan teman atau mengikuti aktivitas tertentu terkadang membuat seseorang mengabaikan kondisi keuangannya.
Riset Women's World Banking yang melibatkan lebih dari 1.500 mahasiswa dan lebih dari 100 pemangku kepentingan di Indonesia pada 2025 menemukan bahwa sebagian anak muda menggunakan kredit digital tanpa sepenuhnya memahami risiko pembayaran kembali. Riset tersebut juga menyoroti pengaruh aplikasi, influencer, dan algoritma terhadap keputusan keuangan generasi muda.
Anak muda mendominasi pengguna pinjol
Besarnya keterlibatan kelompok usia muda dalam layanan pinjaman digital juga terlihat dari data yang diberitakan Channel News Asia (CNA).
Mengacu pada statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode April 2025, kelompok usia 19–34 tahun memiliki outstanding pinjaman atau nilai pinjaman yang masih berjalan sebesar Rp38,34 triliun. Jumlah tersebut merupakan bagian terbesar dari total outstanding pinjaman peer-to-peer lending yang mencapai Rp76,16 triliun pada periode tersebut.
Kelompok usia 35–54 tahun berada di posisi berikutnya dengan outstanding pinjaman Rp34,28 triliun. Data ini memperlihatkan besarnya keterlibatan kelompok usia produktif dalam layanan pinjaman digital.
Sementara itu, laporan yang mengutip survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 yang mencatat bahwa generasi milenial dan Gen Z mencakup 86,6 persen peminjam online di Indonesia.
Angka tersebut perlu dipahami sebagai gambaran komposisi pengguna dalam survei, bukan berarti 86,6 persen seluruh anak muda Indonesia menggunakan pinjol.
Risiko yang perlu dipahami sebelum menggunakan pinjol