Keunggulan GII Vietnam dibandingkan dengan Indonesia terletak pada kemampuannya membangun keterkaitan (linkage) yang kuat antara kapasitas inovasi domestik dengan luar negeri.

Hal ini dilakukan melalui rantai pasok global (global supply chain), perdagangan barang-barang berteknologi tinggi, digitalisasi, intellectual property dan pengembangan perusahaan rintisan (startup).

Sejalan dengan World Intellectual Property Organization (WIPO), perekonomian Vietnam lebih siap dibandingkan Indonesia masuk ke dalam "top 40" peringkat GII.

Hal ini didukung sejumlah indikator, seperti kapasitas R&D yang luas, bisnis R&D yang sangat kuat, kedalaman hubungan antara ilmu pengetahuan dengan industri, dan besarnya kemampuan menghasilkan pengetahuan baru di dalam negeri.

Implikasinya, sejak satu dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Vietnam selalu lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia, yaitu sekitar 6 - 7%. Sementara Indonesia mengalami "5% growth trap" atau jebakan pertumbuhan 5,0%.

Keajaiban ekonomi Vietnam berlanjut hingga kuartal pertama tahun 2026, mengalami pertumbuhan tahunan (year on year) sebesar 8,15%, lalu naik menjadi 8,81% pada kuartal kedua, dan mengalami percepatan menjadi 9,95% pada kuartal ketiga 2026. Kontributor utama pertumbuhan ekonomi Vietnam adalah sektor manufaktur yang tumbuh 12,50% dan menyumbang 51,57% GDP-nya.

Sementara sektor jasa tumbuh 9,54% dan menyumbang 43,29% GDP. Selanjutnya sektor pertanian tumbuh paling rendah 4,21% dengan kontribusi sangat kecil, hanya 5,14% GDP-nya.

Sementara pada sisi permintaan (expenditure), pertumbuhan tertinggi dialami oleh ekspor dan impor, yaitu masing-masing, ekspor tumbuh 23,27% dan impor mengalami pertumbuhan sekitar 28,75%. Selanjutnya, investasi tumbuh 21,39% dan konsumsi rumah tangga tumbuh 8,96%.

Hingga tiga kuartal tahun 2026, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Vietnam mencapai sekitar 9,01%. Sementara target pemerintah, tumbuh sebesar 10% pada tahun 2026 (Trading Economics, 2026). Hal ini didukung oleh belanja pemerintah untuk pembangunan infrastruktur yang sangat besar.

Apa yang bisa dipelajari dari kisah sukses Vietnam menjadi "The New Tiger of Asia"? Pertama, kemampuannya mendongkrak efisiensi ekonominya. Hal ini tercermin pada Incremental Capital Output Ratio (ICOR) dari lebih 6,5% tahun 2016 menjadi 5,85% tahun 2026. Direncanakan menjadi 3,58 - 4,6 tahun 2030.

Kedua, hal lain yang dapat ditiru dari kisah sukses pembangunan ekonomi Vietnam adalah besarnya lapisan pekerja berpendidikan tinggi dan terampil yang menjadi penggerak inovasi teknologi.