Sekitar 87,26% angkatan kerja (labor force) di Vietnam adalah lulusan dari pendidikan tinggi atau sederajat (World Bank, 2026).Para pekerja profesional berpendidikan tinggi menjadi faktor utama dalam mengadopsi teknologi manufaktur terbaru. Menjadikan peringkat Economic Complexity Index (ECI) Vietnam lebih baik dari Indonesia, yaitu Vietnam peringkat 45 dan Indonesia peringkat 69 secara global.
Ketiga, pemerintah Indonesia perlu "berguru" kepada Vietnam dalam membangun integrated industrial estate (kawasan industri terintegrasi) yang hingga saat ini mencapai luas areal dua juta hektar. Pada saat yang sama Indonesia hanya memiliki 24 ribu hektar kawasan industri terintegrasi.
Keempat, mendongkrak belanja R&D baik oleh pemerintah maupun oleh sektor swasta. Targetnya, belanja R&D Indonesia sebagai rasio terhadap GDP naik dari hanya 0,25% GDP menjadi 1,0% GDP hingga tahun 2030.
Kelima, membangun keterkaitan yang kuat antara perguruan tinggi sebagai knowledge and R&D centre dengan industri manufaktur nasional. Keterkaitan ini akan mengakselerasi lahirnya inovasi baru dan meningkatkan efisiensi yang akan mendongkrak pertumbuhan produktivitas ekonomi nasional.
Keenam, untuk mengakselerasi pengembangan integrated industrial estate, pemerintah Indonesia dapat mengadopsi pendekatan aglomerasi ekonomi berbasis provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Tujuannya, menyamai Vietnam dalam pembangunan integrated industrial estate dengan mempercepat perluasan arealnya menjadi sekitar satu juta hektar dalam lima tahun ke depan hingga 2030 dan dua juta hektar dalam 10 tahun pada tahun 2035.
Ketujuh, meningkatkan skor PISA Indonesia sehingga menyamai Vietnam untuk bidang sains (IPA) dari 389 menjadi 457, bidang matematika dari skor 364 menjadi 443, literasi membaca dari 365 menjadi 392 dan kemampuan computational problem solving dari 427 menjadi 461 dalam lima tahun ke depan.
Kedelapan, untuk masuk dalam kelompok "The New Tiger of Asia", pemerintah perlu mendongkrak lapisan pekerja berpendidikan dan berketerampilan tinggi sehingga mencapai lebih dari separuh labor force.
Untuk itu, pemerintah dapat menata ulang kebijakan pendidikan, dengan fokus pada pendidikan gratis dari secondary school hingga pendidikan tinggi atau sederajat dengan fokus utama pada bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Akhirnya, status Vietnam sebagai "The New Tiger of Asia" memberikan pelajaran berharga bagi negara-negara tetangga di kawasan: bahwa lompatan besar dimulai dari pembenahan fundamental, terutama di sektor pendidikan dan STEM. Kini, pilihan ada di tangan kita-apakah hanya akan menjadi penonton dari luar arena, atau bersiap mengambil langkah berani untuk menyusul auman sang macan?
Muhammad Syarkawi RaufDosen FEB UnhasChairman ASEAN Competition Institute (ACI)