NADIKABAR.COM — Di sepanjang pesisir Kalimantan Timur, di tempat pertemuan hutan bakau dengan laut yang membentang luas, tersimpan kekayaan yang kerap luput dari pandangan. Itulah hamparan padang lamun yang berkilau lembut di bawah permukaan air.

Bukan sekadar rumput laut biasa, padang lamun ini adalah paru-paru pesisir, penahan gelombang, tempat berkembang biak ikan-ikan, dan gudang karbon yang jauh lebih dahsyat daripada hutan di daratan.

Di tengah hamparan yang perlahan menyusut dan di tengah kekhawatiran sekaligus harapan, upaya besar sedang dilakukan, yakni menghidupkan kembali padang lamun. Upaya itu bukan hanya demi lingkungan, melainkan demi masa depan ekonomi biru Kalimantan Timur yang berkelanjutan.

Bumi Etam, demikian julukan untuk Kaltim, punya kekayaan padang lamun yang luar biasa. Luasnya mencapai 7.225,56 hektare, tersebar di lima kabupaten dan kota: Berau, Kutai Timur, Bontang, Kutai Kartanegara, dan Balikpapan.

Di perairan tersebut tumbuh 10 dari 13 jenis lamun yang ada di dunia, mulai dari Enhalus acoroides yang berdaun lebar, Thalassia hemprichii yang rapat, hingga jenis-jenis halus yang tumbuh di dasar laut.

Padang lamun menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah yang sangat besar, baik di bagian tanaman maupun sedimen di bawahnya. Inilah yang menjadikannya solusi berbasis alam paling kuat dalam menghadapi perubahan iklim. Ia bekerja senyap, tak terlihat, namun perannya tak tergantikan.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Provinsi Kaltim Fitriansyah menegaskan bahwa lamun bukan sekadar tanaman laut, melainkan fondasi ekonomi biru yang kokoh.

"Merawat lamun berarti merawat masa depan kita,” kata Fitriansyah.

Hasil penelitian yang dilakukan Brida Kaltim bersama Yayasan Ekonomi Keanekaragaman Hayati Laut Indonesia (Yekhali) dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman Samarinda, menunjukkan betapa besar potensi yang terkandung di sana.

Stok karbon di bagian tanaman tertinggi tercatat di Pulau Malahing mencapai 4,19 ton karbon per hektare (C/ha), disusul Kedindingan 3,81 ton C/ha, dan Pulau Miang Kecil 2,18 ton C/ha.

Hal yang lebih mengagumkan adalah simpanan karbon di sedimen lapisan tanah di bawah hamparan lamun mencapai ratusan ton per hektare. Pulau Miang Kecil menyimpan 383,78 ton C/ha, Biduk 382,42 ton C/ha, dan wilayah Kutai Kartanegara 381,13 ton C/ha.

Angka-angka ini mengingatkan bahwa di bawah ombak, ada harta yang jauh lebih berharga ketimbang yang terlihat di permukaan.