NADIKABAR.COM — Menteri Perindustrian (Menperin) Sarmuji membantah tudingan yang menyebut kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri hanya untuk plesiran. Ia mencontohkan masuknya investasi perusahaan asal Amerika Serikat (AS) senilai US$ 500 juta atau hampir Rp 9 triliun.
Investasi tersebut merupakan hasil kerja sama PT Tynergy Technology Group asal AS dengan PT Wiraraja Bintang Persada untuk pengembangan pabrik baterai di Batam, Kepulauan Riau. Proyek ini menjadi salah satu tindak lanjut kunjungan Prabowo ke Washington DC pada Februari 2026.
"Ini sekaligus kita membuktikan bahwa setiap kunjungan bapak Presiden ke luar negeri itu sebenarnya menghasilkan langkah-langkah yang produktif. Bapak Presiden ke luar negeri itu bukan buat plesiran, tapi untuk misi nasionalisme," kata Sarmuji di Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026).
Sarmuji menegaskan kunjungan Prabowo ke luar negeri memiliki tujuan penting, termasuk membuka peluang kerja sama ekonomi. Sarmuji mengklaim banyak investor AS mulai berdatangan ke Indonesia setelah kunjungan tersebut.
"Menjaga komunikasi dan hubungan antara kedua negara, sekaligus ada misi yang menyertai Bapak Presiden yaitu misi ekonomi yang terbukti, investor dari luar negeri khususnya dari AS berdatangan setelah Pak Prabowo datang ke AS," ujarnya.
Ia juga menyinggung kritik masyarakat terhadap intensitas perjalanan luar negeri Prabowo. Sarmuji menilai realisasi kerja sama investasi tersebut dapat menjawab kritik yang selama ini muncul.
"Yang sering kita kritik, orang-orang Indonesia sering kritik, ngapain Pak Presiden ke luar negeri terus. Salah, buktinya ini," tegasnya.
Sebagai informasi, kerja sama investasi kedua perusahaan merupakan tindak lanjut penandatanganan perjanjian usaha patungan atau joint venture pada 18 Februari 2026 di Washington DC, yang disaksikan langsung oleh Prabowo.
Proyek bernama Tynergy Wiraraja Batam ini berlokasi di Kawasan Industri Wiraraja, Kabil, Batam, dengan luas lahan sekitar 9.300 meter persegi. Fasilitas tersebut ditargetkan memiliki kapasitas penyimpanan energi berbasis baterai sodium-ion sebesar 1 gigawatt hour (GWh).
Baterai yang diproduksi nantinya dapat digunakan untuk kendaraan listrik, pusat data atau data center, hingga penyimpanan energi dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Proyek ini juga diperkirakan menyerap hingga 500 tenaga kerja.
Sarmuji memperkirakan fasilitas tersebut dapat dikunjungi pada kuartal II-2027. Investasi US$ 500 juta ini merupakan bagian dari total komitmen investasi senilai US$ 4,89 miliar yang dibahas dalam Indonesia-US Business Summit di Washington DC pada Februari 2026.