NADIKABAR.COM — Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mendorong pengembangan industri sagu beserta produk turunannya. Komoditas ini memiliki potensi besar, baik untuk industri makanan maupun sektor minyak dan gas (migas) hingga farmasi.

Selain itu, sejumlah pelaku industri telah mengembangkan berbagai produk berbahan dasar sagu, mulai dari mi hingga pasta. Namun, ia menilai pengembangan industri tersebut masih membutuhkan dukungan regulasi dan teknologi.

"Tinggal butuh dukungan kita semua, terutama pada regulasi, pada teknologi, dan dukungan-dukungan yang lain. Tadi BRIN ternyata juga sudah mulai melakukan uji coba, bukan hanya meneliti, tapi sudah melakukan uji coba bagaimana tepung sagu dimanfaatkan untuk drilling," kata Sarmuji usai Sago Business Forum, di Kantor Kemenperin, Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Menurut Sarmuji, kebutuhan tepung sagu untuk pengeboran bisa mencapai 10 ton per sumur. Dengan jumlah sumur migas yang mencapai ratusan, sektor ini dinilai dapat menjadi pasar yang menjanjikan bagi industri sagu nasional.

Pemerintah pun tengah mempertimbangkan penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI) serta kebijakan yang mendorong penggunaan sagu sebagai bahan baku industri.

"Kita lagi berpikir bagaimana kita meng-SNI-kan, lalu kita meng-endorse ini sebagai bagian yang seperti sebuah mandatori bagi industri, terutama tadi drilling tadi itu dan industri-industri yang lain yang bisa memanfaatkan sagu sebagai bahan baku," ujarnya.

Selain migas, sagu juga berpotensi dimanfaatkan dalam industri farmasi. Sarmuji mengungkapkan adanya riset yang menunjukkan campuran sagu dapat mempercepat proses penyerapan obat dalam tubuh dari sekitar 29 menit menjadi kurang dari satu menit.

Dari sisi ekspor, peluang pasar sagu Indonesia juga terus berkembang, terutama di Jepang. Pangsa pasar pati sagu Indonesia di negara tersebut meningkat dari 2% pada 2021 menjadi 14% pada 2025.

Pada 2025, nilai impor pati sagu Jepang secara keseluruhan mencapai US$ 10,5 juta, meningkat 35% dibandingkan 2021. Meski Malaysia masih menjadi pemasok utama, pemerintah berupaya memperluas akses pasar Indonesia melalui kemitraan dengan pihak Jepang.

"Ekspor ke Jepang, kita memang belum maksimal ekspor kita. Data terbaru 2025 baru 14 persen kebutuhan Sagu Jepang kita supply dari Indonesia," tutup Sarmuji.