"Buktinya apa kemarin? Begitu ada isu begitu, ada isu ya riak-riak kecil-kecil, ternyata antar Menlu ketemu. Lalu justru terbangun kerja sama-kerja sama yang menurut saya sangat produktif, ya. Ada kerja sama misalkan investigasi bersama tentang kebakaran karhutla dan macam-macam. Ya, dinamika bertetangga, mudah-mudahan makin lama makin baik, ya," ujarnya.

Terkait kekhawatiran dampaknya terhadap iklim investasi, Sarmuji memastikan Indonesia dan Singapura sama-sama berkepentingan menjaga hubungan baik. Terlebih, Singapura selama ini menjadi salah satu sumber utama investasi asing di Indonesia.

Sebagai informasi, Singapura merupakan pemodal asing terbesar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Investasi Singapura sepanjang sembilan bulan pertama 2026 mencapai US$ 14 miliar atau berkontribusi 29,6% terhadap total penanaman modal asing (PMA) di Indonesia.

"Ya pasti (iklim investasi dijaga). Pasti ini kelihatannya kan sama-sama menjaga itu. Singapura juga menjaga agar hubungannya tetap harmonis, kita juga pasti punya kepentingan agar hubungan tetap harmonis dengan Singapura. Kita ini kan antartetangga mungkin perlu dikembangkan simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan. Dengan demikian, dalam tata krama pergaulan pasti kita penginnya saling menghormati. Ya," jelas Sarmuji.