"Kita bangun sistem dari hulu ke hilir, kalau tidak, ini peternak terus menerus berteriak," tegas Amran.

Dalam skema yang disiapkan, Amran menyebut kelompok tani akan dibina untuk memenuhi kebutuhan jagung pakan peternak. Koperasi akan berperan mengorganisasi petani dan memperkuat kemitraan, sementara kelompok peternak menjadi mitra penyerapan hasil panen.

Amran menyebut kebutuhan jagung untuk peternak sekitar 1,8 juta ton. Pemerintah pun menargetkan pengembangan penanaman jagung hingga 300 ribu hektare untuk memperkuat pasokan tersebut

Ia menambahkan, produksi yang melebihi kebutuhan mitra dapat diserap oleh Perum Bulog. Dengan demikian, petani memiliki kepastian calon pembeli, sedangkan peternak memperoleh dukungan pasokan bahan baku pakan.

"Kelompok tani untuk jagung kami beri anggaran. Jagung yang ditanam petani binaan itu nantinya diserap oleh kelompoknya. Kalau berlebih, langsung dibeli oleh Bulog," kata Amran.

Amran juga meminta agar pelaksanaan kemitraan berjalan tertib dan tepat sasaran. Menurutnya, petani yang telah dibina dalam program harus menjadi pihak yang memperoleh manfaat dari penyerapan hasil panen, bukan justru kehilangan akses kepada pembeli karena praktik perantara yang merugikan.

Untuk itu, Amran meminta jajaran pemerintah daerah agar membantu mengawasi pelaksanaan program dan menindak pelanggaran yang terbukti menghambat tujuan bantuan pemerintah.

"Ini pertama dalam sejarah, dan ini perintah bapak Presiden," ucap Amran.