Kebutuhan jagung pakan diperkirakan mencapai 1,8 juta ton. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut serta menyediakan cadangan pasokan, pemerintah merancang penanaman jagung di lahan seluas 300 ribu hektare dengan asumsi produktivitas tujuh ton per hektare. Dengan skema tersebut, produksi diproyeksikan mencapai 2,1 juta ton.
Demi menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pakan, Perum Bulog disiapkan menyerap kelebihan pasokan ketika kebutuhan peternak di suatu wilayah telah terpenuhi. Dalam skema yang dirancang, jagung yang disetorkan ke Bulog dapat disimpan terlebih dahulu, kemudian dibeli kembali oleh peternak sesuai kebutuhan melalui mekanisme Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan.
Sejalan dengan penguatan serapan dan distribusi, pemerintah menjalankan program SPHP jagung pakan. Hingga 27 Oktober 2026, realisasi SPHP jagung pakan mencapai 216,8 ribu ton dan telah menjangkau 11.646 peternak unggas melalui 151 koperasi dan asosiasi yang tersebar di 29 provinsi.
Pada saat yang sama, di 2026 alokasi SPHP jagung pakan mencapai 391,9 ribu ton setelah penambahan 150 ribu ton dari alokasi awal sebesar 241,9 ribu ton. Alokasi tersebut meningkat hampir delapan kali lipat dibandingkan dengan alokasi 2025 yang sebesar 51,2 ribu ton.