NADIKABAR.COM — Ketegangan geopolitik dunia berpotensi mengganggu rantai pasok dan memicu krisis pangan mendorong sejumlah negara memperkuat kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat. Di tengah kondisi tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut Indonesia patut bersyukur karena kondisi pangan nasional relatif aman.
Amran mengatakan kondisi tersebut tidak terlepas dari kerja keras petani, dukungan pemerintah, serta kebijakan strategis untuk memperkuat produksi dan mewujudkan kemandirian pangan nasional. Menurutnya, kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri menjadi modal penting bagi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global.
"Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Di saat dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik, ancaman krisis pangan, dan gangguan rantai pasok, kondisi pangan Indonesia relatif aman. Kita punya produksi dalam negeri, punya cadangan, dan terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ini yang harus kita jaga," ujar Amran dalam keterangan tertulis, Minggu (01/11/2026).
Kekhawatiran terhadap kemungkinan krisis pangan juga terlihat dari langkah sejumlah negara yang mulai mengimbau masyarakat untuk menyiapkan persediaan kebutuhan dasar di rumah.
Sedikitnya 33 negara mengeluarkan imbauan agar masyarakat memiliki stok makanan tahan lama, air minum, obat-obatan, hingga perlengkapan darurat untuk menghadapi kemungkinan gangguan. Sejumlah negara bahkan merekomendasikan persediaan kebutuhan rumah tangga untuk setidaknya 72 jam sebagai langkah antisipasi.
Imbauan tersebut merupakan bentuk antisipasi terhadap berbagai risiko yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat. Risiko tersebut mencakup konflik geopolitik, bencana alam, cuaca ekstrem, serangan siber yang berdampak pada infrastruktur, hingga terhambatnya rantai pasok dan distribusi kebutuhan pokok.