Berbeda dengan kekhawatiran yang mendorong sejumlah negara menyiapkan stok darurat, Indonesia memiliki cadangan beras yang menjadi salah satu penopang ketahanan pangan nasional. Amran menjelaskan, per 26 Oktober 2026, cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai sekitar 4,5 juta ton.
Selain cadangan yang dikelola Bulog, terdapat sekitar 10 juta ton potensi beras dari standing crop atau tanaman padi yang siap dipanen serta sekitar 10 juta ton stok di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka). Dengan demikian, ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 25 juta ton, sementara kebutuhan beras berada di kisaran 2,5 juta ton per bulan.
"Kalau kita hitung, stok di Bulog sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di horeka sekitar 10 juta ton. Total sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global," tuturnya.
Berdasarkan kondisi tersebut, Amran menegaskan bahwa kemampuan Indonesia mempertahankan swasembada beras tanpa impor menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari negara lain, terutama ketika konflik dan ketegangan geopolitik berpotensi mengganggu perdagangan internasional.
Ia juga menekankan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan stok, tetapi menyangkut kedaulatan bangsa. Kemampuan memproduksi pangan sendiri memberikan ruang lebih besar bagi negara untuk melindungi masyarakat dari gejolak harga maupun gangguan pasokan global.