NADIKABAR.COM — Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menilai pemerintahan Prabowo Subianto menunjukkan kepemimpinan paling transformati dalam mendorong akselerasi energi terbarukan nasional. Menurutnya, Prabowo telah memperkuat percepatan energi terbarukan sebagai agenda strategis nasional.
Ketua Umum METI Norman Ginting mengungkap bahwa sejumlah program seperti biodiesel, pengembangan bioetanol, program PLTS 100 GWp, serta percepatan pengolahan sampah menjadi energi (PSEL) menunjukkan arah pembangunan yang menghubungkan ketahanan energi, penguatan ekonomi rakyat, dan keberlanjutan lingkungan.
"Keberanian memperbesar skala program dan menghubungkannya dengan kemandirian energi, industrialisasi, serta kesejahteraan rakyat merupakan perubahan yang sangat penting bagi masa depan Indonesia," ujar Norman dalam keterangan resminya, Rabu (21/10).
Menurut Norman, ukuran keberhasilan transisi energi adalah manfaat yang dirasakan masyarakat, yakni berkurangnya ketergantungan impor, bertambahnya peluang usaha dan lapangan kerja, serta energi yang kian andal dan terjangkau.
METI mengapresiasi mandatori biodiesel 50 atau B50 yang diluncurkan pada Juli 2026. Dalam rilisnya, METI menyebut pemerintah menyampaikan bahwa implementasi B50 memungkinkan penghentian impor solar, dengan potensi penghematan devisa hingga Rp170 triliun.
Norman mengatakan bahwa B50 membuktikan Indonesia mampu membangun solusi energi dari sumber dayanya sendiri.