METI turut mengapresiasi percepatan pengolahan sampah menjadi energi. Menurut METI, pemerintah telah menetapkan lokasi prioritas dan mendorong keterlibatan pemerintah daerah, Danantara, serta mitra usaha.

METI mendorong perluasan program secara bertahap ke kota yang siap secara teknis dan keekonomian, dengan pengendalian emisi ketat dan pengelolaan residu yang aman. Pengurangan, pemilahan, dan daur ulang sampah tetap harus diutamakan.

Selain deret program unggulan tersebut, METI juga mendukung percepatan panas bumi, tenaga air, angin, biomassa berkelanjutan, biogas, serta pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan dan hidrogen hijau sesuai kesiapan teknologi dan pasar.

Arah penguatan ini tercermin dalam RUPTL PLN 2025-2034, yang merencanakan tambahan kapasitas pembangkit EBT sebesar 42,6 GW dan penyimpanan energi sebesar 10,3 GW. Keduanya mencakup sekitar 76 persen dari total rencana penambahan kapasitas 69,5 GW.

Norman menegaskan bahwa tahap berikutnya adalah memastikan visi besar tersebut diterjemahkan menjadi proyek yang beroperasi dan manfaat ekonomi yang nyata. Kepastian regulasi, pembiayaan yang kompetitif, kesiapan jaringan, serta koordinasi lintas sektor menjadi faktor penentu.

"Dua tahun pertama telah meletakkan arah transformasi yang kuat. METI siap menjadi mitra strategis pemerintah untuk mempercepat pelaksanaannya. Tujuan kita adalah Indonesia yang semakin mandiri energinya, semakin kuat industrinya, dan semakin sejahtera rakyatnya," kata Norman.