METI menilai berkurangnya ketergantungan pada BBM impor memperkuat ketahanan Indonesia terhadap gejolak harga energi dan nilai tukar. Namun, langkah ini perlu dibarengi dengan pengelolaan insentif dan pembiayaan yang efisien untuk menjaga keberlanjutan fiska dan mengendalikan beban subsidi energi.
METI juga menyambut program bioetanol 20 atau E20, yakni pencampuran bensin dengan 20 persen bioetanol. Menurut METI, pemerintahan Prabowo sudah menyampaikan persiapan program ini dengan memanfaatkan bahan baku pertanian domestik dan memperkuat kepastian penyerapan produksi.
Norman menyebut tebu, jagung, sorgum, singkong, dan bahan baku lain yang layak dikembangkan dapat menjadikan petani bagian penting rantai pasok energi nasional. Oleh sebab itu, METI mendorong kemitraan petani yang adil. kepastian pembelian, dan pemanfaatan lahan yang bertanggung jawab dengan tetap menjaga ketahanan pangan.
Norman menilai program PLTS 100 GWp sebagai langkah berani untuk mengubah skala pengembangan energi terbarukan nasional. Prabowo telah menegaskan bahwa program ini sebagai bagian dari percepatan transisi energi.
Jika terealisasi penuh, program ini berpotensi meningkatkan signifikan kontribusi energi terbarukan dalam penyediaan listrik, sekaligus memperluas akses energi di kepulauan, wilayah terluar, dan daerah yang bergantung pada pembangkit diesel.
METI menekankan pentingnya integrasi PLTS dengan baterai, penguatan jaringan, dan pengoperasian sistem yang tepat. Di wilayah yang bergantung pada diesel mahal, kombinasi itu dinilai berpeluang menekan biaya listrik dan kebutuhan subsidi.