Mardiah menyebut pada 6 Februari 2023 saldo yang sebelumnya masih tercantum di akun mulai berkurang hingga akhirnya menjadi Rp 0. Ia mengaku kemudian menerima pemberitahuan mengenai pelanggaran kebijakan.
"Kemudian, 6 Februari, tiba-tiba saldo yang ada di seller itu dinolkan, jadi hilang, jadi Rp 0 dengan tuduhan pelanggaran kebijakan. Sanksi pelanggaran kebijakan. Kemudian, 10 April 2023, notifikasi email masuk dengan tuduhan lagi fake order. Pelanggaran fake order. Jadi, pelanggarannya juga saya dapat, tuduhannya berbeda-beda. Lain tanggal, lain lagi pelanggarannya," beber Mardiah.
Dalam rapat yang sama, Zainal Abidin juga mengaku mengalami persoalan yang sama. Zainal telah berjualan melalui Tokopedia sejak 2019 dan tetap aktif setelah sistem platform tersebut terintegrasi dengan TikTok.
Zainal mengatakan tokonya dinonaktifkan pada 25 April 2026 dengan alasan penyalahgunaan subsidi. Saat itu terdapat saldo sekitar Rp 566 juta yang belum dapat ditarik dan disebut akan ditahan selama tiga bulan.
"Terus, Tokopedia merger sama TikTok itu tahun 2023, sistemnya sudah berubah menjadi sistem TikTok. Penarikan dana cuma sehari satu kali, ya. Terus, saya kan aktif jualan sampai kemarin itu tanggal 25 April 2026, itu tiba-tiba tokok saya dinonaktifkan," terang Zainal.