NADIKABAR.COM — Tim Ocean Climate Research Group (OCRG), Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (Prima) BRIN, memanfaatkan model transpor partikel Euler-Lagrangian untuk memetakan pola pergerakan orang yang hanyut di perairan Selat Sunda. Cara ini untuk mencari tahu delapan korban, termasuk lima jurnalis yang meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.

Pemodelan dengan ribuan partikel hipotetik menghasilkan peta probabilitas yang menggambarkan kemungkinan wilayah penyebaran berdasarkan dinamika arus, gelombang, dan angin.

Kajian ini dilakukan untuk memberikan informasi ilmiah tambahan dalam memahami kemungkinan lintasan hanyut delapan orang yang hilang kontak di Selat Sunda pada 7 September 2026 lalu saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Tim yang diketuai peneliti Prima BRIN Widodo Setiyo Pranowo menjalankan simulasi menggunakan data arus laut dan sejumlah skenario kondisi korban serta dorongan angin.

Ia menilai bahwa dinamika arus dan gelombang menjadi faktor penting dalam memperkirakan arah dan kecepatan hanyut.

"Kecepatan hanyut yang dibangkitkan gelombang itu sekitar 40% dari total arus permukaan yang ada di lokasi itu. Jadi, kondisi arus seperti ini akan sangat penting bagi prediksi penyebaran korban," ujar Widodo dikutip dari keterangan tertulis yang dikutip NadiKabar, Minggu (20/9/2026).