Widodo menekankan bahwa pemodelan hanyut perlu didukung data lapangan dan informasi kelautan yang lengkap.

"Semua parameter atau kejadian di laut secara fisik memang harus dikumpulkan semua, mulai dari kondisi gelombang, kondisi arus, kemudian kondisi yang ada di angkasa termasuk angin dan citra satelit. Itu harus dikumpulkan untuk dianalisis dan dihubungkan dengan kondisi stabilitas kapal, kelaikan, dan muatannya," ungkapnya.

Tim OCRG BRIN menegaskan bahwa hasil pemodelan merupakan alat bantu perencanaan, bukan penentu lokasi korban. Model masih memiliki keterbatasan, antara lain penggunaan data angin yang diperkirakan dari tinggi gelombang serta asumsi korban tetap mengapung dengan pelampung. Hasil simulasi juga belum dapat diuji menggunakan temuan lapangan.

"Kajian ini menunjukkan potensi pemodelan laut untuk mendukung kesiapsiagaan pencarian dan pertolongan di perairan Indonesia. Pengembangan protokol pemodelan hanyut, pemasangan pelampung berpenjejak satelit, model hidrodinamika beresolusi tinggi. Kemudian, pencatatan koordinat kejadian secara seragam dan terverifikasi menjadi langkah yang dapat dikembangkan lebih lanjut," pungkasnya.