Dalam pemodelan tersebut, tim BRIN menyimulasikan ribuan partikel hipotetik yang merepresentasikan orang dengan berat badan tertentu dan menggunakan pelampung. Pergerakannya dihitung secara berkala dengan mempertimbangkan arus, angin, serta penyimpangan arah akibat bagian tubuh yang berada di atas permukaan air atau dikenal sebagai leeway. Tim juga menggunakan skenario berat badan 60 - 70 kilogram, untuk melihat pola sebaran dan probabilitasnya.
"Hasil pemodelan menunjukkan pentingnya ketepatan informasi lokasi awal, aua versi koordinat lokasi hilang kontak yang berbeda sekitar 30 kilometer menghasilkan lintasan yang sangat berbeda," tutur Widodo.
"Dalam satu skenario, partikel bergerak ke barat menyusuri pesisir Lampung, sedangkan skenario lainnya masuk ke arus pantai Samudra Hindia dan bergerak jauh ke arah barat laut. Ketidakpastian 30 kilometer pada titik awal berkembang menjadi sekitar 221 hingga 292 kilometer pada posisi akhir," ucapnya menambahkan.
Untuk menghadapi ketidakpastian tersebut, tim menjalankan delapan skenario dengan mengombinasikan perbedaan lokasi, waktu kejadian, dan dorongan angin. Hasilnya kemudian digabungkan melalui pendekatan ensembel menjadi peta probabilitas.
Area yang mencakup 95 persen kemungkinan posisi korban berkembang dari sekitar 2.700 kilometer persegi pada hari keenam menjadi lebih dari 10.500 kilometer persegi pada hari ke-14.