Gangkhar Puensum, secara harfiah berarti 'Puncak Putih Tiga Bersaudara Spiritual', juga memiliki makna keagamaan mendalam bagi penduduk setempat yang menganut tradisi Buddha Tibet. Mereka meyakini puncak-puncak gunung tersebut tempat bersemayamnya Yul Lha atau dewa pelindung. Mengusik dewa-dewa ini, misalnya dengan menginjak rumah mereka, diyakini mendatangkan petaka.
Larangan pendakiannya yang kemudian diperluas ke seluruh pegunungan di wilayah Bhutan pada tahun 2003, juga dikaitkan dengan rumor keberadaan Migoi,atau yang lebih dikenal dengan sebutan Yeti, serta naga petir yang dikenal sebagai Druk selaku simbol pada bendera nasional mereka.
Di1998, terlepas dari larangan tersebut, tim pendaki Jepang berupaya mencapai puncak dengan mendekatinya melalui sisi Tibet. Hal ini didasari klaim China bahwa puncaknya sebenarnya berada di perbatasan mereka.
Akan tetapi, tim tersebut terpaksa membatalkan upaya mereka setelah protes keras dari pihak Bhutan, meski detail kejadian pastinya simpang siur. "Saya tak dapat membeberkan cerita di balik layar terkait pembatalan mendadak ini," ungkap pendaki Tamotsu Nakamura.