NADIKABAR.COM — Manusia adalah makhluk penjelajah. Jadi jika ada gunung sangat tinggi, suatu saat pasti ada orang yang akan mendaki hingga ke puncaknya. Namun, pada ketinggian sekitar 7.570 meter, Gangkhar Puensum adalah gunung luar biasa dan sejauh yang diketahui, belum ada satu orang pun pernah melihat puncaknya dari dekat.

Gunung tertinggi dunia tentu saja Everest. Meski telah memakan korban jiwa tak terhitung jumlahnya, dengan jasad-jasad membeku tergeletak di sepanjang jalur pendakian, 7.563 orang berbeda berhasil menjejakkan kaki di puncaknya yang setinggi 8.848,86 meter.

Lalu ada Mauna Kea, gunung berapi tidur di Hawaii. Dengan puncak 4.207 meter di atas permukaan laut, ia memang bukan gunung tertinggi namun gunung berukuran paling tinggi. Dasar gunung ini menghunjam ke Samudra Pasifik, sehingga jika diukur dari dasar hingga puncak, ketinggiannya 10.210 meter, membuat Everest terlihat seperti bukit belaka.

Dikutip NadiKabar dari IFL Science, Senin (26/10/2026) puncak Mauna Kea ini pun sudah pernah didaki. Lalu, mengapa tidak dengan Gangkhar Puensum?

Sebenarnya, beberapa pendaki pernah mencobanya. Antara tahun 1983 dan 1994, tim pendaki Jepang, Australia, dan Inggris mencoba peruntungan, tapi semuanya putar balik sebelum mencapai ketinggian 7.000 meter. Tim Inggris bahkan harus dievakuasi menggunakan helikopter setelah angin kencang menggagalkan upaya mereka.

Namun bukan hanya kondisi berbahaya yang menghentikan para pendaki, melainkan karena pendakian ke gunung ini kini telah dilarang sepenuhnya.

Gunung ini terletak di perbatasan antara China dan Bhutan. Sebagian besar wilayahnya termasuk puncaknya, berada di sisi Bhutan. Tahun 1994, Bhutan mengambil keputusan melarang pendakian ke Gangkhar Puensum dan gunung-gunung lain di kawasan tersebut dengan ketinggian di atas 6.000 meter karena beberapa alasan.

Alasan pertama adalah ancaman keselamatan jiwa. Sangat minim layanan penyelamatan di area tersebut untuk menangani para pendaki yang menemui kondisi darurat.

Gangkhar Puensum, secara harfiah berarti 'Puncak Putih Tiga Bersaudara Spiritual', juga memiliki makna keagamaan mendalam bagi penduduk setempat yang menganut tradisi Buddha Tibet. Mereka meyakini puncak-puncak gunung tersebut tempat bersemayamnya Yul Lha atau dewa pelindung. Mengusik dewa-dewa ini, misalnya dengan menginjak rumah mereka, diyakini mendatangkan petaka.

Larangan pendakiannya yang kemudian diperluas ke seluruh pegunungan di wilayah Bhutan pada tahun 2003, juga dikaitkan dengan rumor keberadaan Migoi,atau yang lebih dikenal dengan sebutan Yeti, serta naga petir yang dikenal sebagai Druk selaku simbol pada bendera nasional mereka.

Di1998, terlepas dari larangan tersebut, tim pendaki Jepang berupaya mencapai puncak dengan mendekatinya melalui sisi Tibet. Hal ini didasari klaim China bahwa puncaknya sebenarnya berada di perbatasan mereka.

Akan tetapi, tim tersebut terpaksa membatalkan upaya mereka setelah protes keras dari pihak Bhutan, meski detail kejadian pastinya simpang siur. "Saya tak dapat membeberkan cerita di balik layar terkait pembatalan mendadak ini," ungkap pendaki Tamotsu Nakamura.