NADIKABAR.COM — mata Amerika Serikat yang dioperasikan pada masa Perang Dingin meledak tanpa peringatan dan hingga kini, ilmuwan belum dapat menjelaskan penyebabnya.
Ahli memperingatkan awan puing akibat hancurnya satelit secara tiba-tiba ini berpotensi jadi ancaman nyata bagi wahana antariksa lain di orbit Bumi rendah (LEO) yang sudah sangat padat.
Wahana antariksa yang dikenal sebagai USA 32 atau Farrah III ini diluncurkan National Reconnaissance Office (NRO) tahun 1988. Misi satelit tersebut, yang baru dibuka untuk publik awal tahun ini, adalah menyadap sinyal radar dan radio Uni Soviet.
Wahana silinder yang digambarkan mirip kaleng tuna raksasa ini kemungkinan besar berhenti beroperasi puluhan tahun lalu dan mengelilingi Bumi dalam diam sejak itu. Nama panggilannya diambil dari aktris Farrah Fawcett, mengikuti tradisi lama NRO yang menamai satelit dengan tokoh terkenal era 1970-an dan 1980-an.
Pada 17 September, Space Track, divisi pengamatan satelit Angkatan Luar Angkasa AS, mengumumkan USA 32 mengalami peristiwa fragmentasi mendadak empat hari sebelumnya pada 13 September. Intinya, wahana meledak dan berpotensi hancur jadi puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan serpihan.
Tak dirinci penyebab ledakan maupun jumlah puing. Sejumlah organisasi lain kemudian mengonfirmasi peristiwa hancurnya satelit ini, termasuk perusahaan pelacak satelit swasta s2a systems, yang berhasil memotret serpihan terbesar USA 32 yang masih tersisa di orbit.
Ledakan terjadi 775 kilometer di atas permukaan Bumi. Mengingat kecepatan satelit, puing yang dihasilkan kemungkinan langsung menyebar membentuk cincin raksasa yang mengelilingi Bumi dalam kurun waktu 24 jam setelah satelit itu hancur secara tiba-tiba, berdasarkan sebuah simulasi dari situs web tersebut.
Masih belum jelas apa yang sebenarnya terjadi pada wahana antariksa era Perang Dingin tersebut, tapi ada beberapa teori. Tabrakan dengan satelit lain atau kepingan sampah antariksa adalah salah satu penyebab hancurnya satelit paling umum.
Namun sejauh ini tak ada laporan mengenai wahana antariksa lain yang terkena dampaknya dan peneliti sering kali dapat memprediksi potensi tabrakan dengan sampah antariksa berhari-hari atau berminggu-minggu sebelumnya, sehingga skenario ini terbilang kecil kemungkinannya.
Dikutip NadiKabar dari Live Science, teori kuat lainnya adalah satelit mati karena faktor usia. Ia kemungkinan tidak dirancang untuk misi luar angkasa jangka panjang. Setelah hampir empat dekade terpapar kondisi ekstrem di LEO, wahana mata-mata ini mungkin rusak secara alami.
"Wahana antariksa tua masih membawa baterai dan sisa bahan bakar pendorong. Setelah proses pemanasan dan pendinginan 38 tahun, tangki bertekanan atau sel baterai pada USA 32 bisa saja pecah," tulis Spaceweather.
Meski demikian, dinilai masih terlalu dini untuk menyingkirkan kemungkinan satelit tersebut dihantam oleh senjata anti satelit. Awal bulan ini, Sekretaris Angkatan Udara AS Troy E. Meink untuk pertama kalinya mengungkap AS meluncurkan senjata ke orbit. Negara seperti China dan Rusia diduga memiliki teknologi serupa.
Namun tak ada bukti penggunaan senjata anti satelit dalam kasus ini. Peneliti kemungkinan bisa memastikan penyebabnya dengan rekayasa balik, dimulai dari mengidentifikasi serpihan, lalu melacak lintasan serpihan tersebut ke titik awal ledakan. Namun proses ini bisa makan waktu bulanan bahkan bertahun-tahun.