Wabah menari tahun 1518 bukan satu-satunya insiden semacam ini. Berbagai wabah tarian lainnya terjadi di Eropa barat antara akhir tahun 1300-an hingga pertengahan tahun 1500-an.

Satu teori menyebutkan para penari jatuh sakit akibat ergot, jamur yang dapat mengkontaminasi gandum. Teori lain menyebut mereka digigit laba-laba beracun. Kesurupan iblis, epilepsi, tifus, dan peradangan otak juga diajukan sebagai kemungkinan penjelasan.

Akan tetapi Waller merasa hanya ada satu teori masuk akal. Ia menduga para penari semuanya adalah korban histeria massal, yang juga dikenal sebagai penyakit psikogenik massal, dipicu oleh tekanan psikologis hebat.

Tahun-tahun menjelang 1518 sangatlah berat, khususnya bagi masyarakat kelas bawah. Gagal panen, cuaca buruk, masalah ekonomi, kerusuhan, ketegangan agama, serta berbagai penyakit seperti kusta dan sifilis sangat menguras kejiwaan. Mereka kelaparan, cemas, sedih, dan khawatir Tuhan mengabaikan mereka.

Waller menduga warga mencapai titik puncak ketahanan lalu memasuki keadaan menyerupai kesurupan yang membuat mereka tak peka terhadap kelelahan dan sakit. Menurutnya, mereka menari-alih-alih menangis atau lainnya karena kepercayaan mereka pada Santo Vitus dan kutukan tariannya.

Waller membagikan contoh modern penyakit psikogenik massal yang memiliki sifat serupa. Lebih dari 300 siswa di Blackburn, Inggris, pingsan misterius secara tiba-tiba tahun 1956 dan ratusan orang tertimpa serangan tertawa dan menangis secara bergantian di Afrika Timur di 1962.