Pemimpin kota memutuskan membiarkan para penari terus menari. Mereka mengosongkan pasar, membangun panggung, dan menyewa musisi. Mereka tidak menjelaskan alasan melakukannya.

John Waller, profesor sejarah kedokteran Michigan State University, menduga mereka memiliki dua alasan. Mereka percaya menari membantu masyarakat membuang kotoran fisik dari tubuh dan memandangnya sebagai penebusan dosa.

"Jika orang diyakini dikutuk Tuhan atau orang suci karena tindakan amoral, menari dikaitkan hedonisme dan pada dasarnya amoral. Cara menghukum diri sendiri adalah menari sampai kelelahan dan sakit, bahkan berpotensi kematian. Itu masuk akal dalam kerangka penebusan dosa," paparnya, dikutip NadiKabar dari Popular Science

Dengan kata lain, jika menari adalah hukuman maka biarkanlah mereka dihukum. Namun saat itu musim panas terik dan penari kemungkinan besar berada langsung di bawah Matahari. Mereka tidak banyak makan, minum, dan tak beristirahat.

"Ini tentu sangat berbahaya bagi banyak orang, terutama bagi yang rentan terhadap serangan jantung atau stroke," kata Waller. Catatan sejarah belum jelas mengenai berapa banyak orang yang tewas. Satu penulis mengklaim sebanyak 15 orang per hari.

Akhirnya, pihak berwenang memindahkan penari tersisa ke kuil yang didedikasikan untuk Santo Vitus, tempat pemuka agama mulai berdoa dan meletakkan persembahan. Seiring berlalunya hari, para penari berhasil kembali ke kehidupan normal.