Jika digabungkan, jaringan tersebut memiliki sekitar 72 juta followers dan subscribers dengan jumlah views mencapai sekitar 1,8 miliar per bulan.

Penguatan ekosistem audiens menjadi salah satu langkah MNCN di tengah tekanan pada bisnis iklan. Pada semester I-2026, pendapatan perseroan tercatat Rp3,52 triliun, turun 13,59% dibandingkan Rp4,07 triliun pada semester I-2025.

Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya pendapatan iklan. Namun, bisnis konten dan subscription masih mencatat pertumbuhan. Kondisi ini membuat pengembangan kanal digital dan pendapatan berulang menjadi bagian dari strategi MNCN dalam mengembangkan bisnis medianya.

CMRY menambah penyertaan modal secara bertahap sebesar Rp125 miliar kepada anak usaha yang dikendalikannya, Macrosentra Niagaboga.

Tambahan modal tersebut disiapkan untuk mendukung pengembangan pusat distribusi sekaligus memenuhi kebutuhan modal kerja perusahaan.

Transaksi ini termasuk transaksi afiliasi yang dikecualikan berdasarkan POJK No. 42/POJK.04/2020. Pasalnya, Macrosentra Niagaboga merupakan perusahaan terkendali dengan kepemilikan saham sebesar 99,99% oleh CMRY.

Perseroan menyatakan transaksi tersebut tidak menyebabkan perubahan pengendalian dan tidak memberikan dampak material terhadap kondisi keuangan, operasional maupun kelangsungan usaha CMRY.

Ekspansi distribusi dilakukan ketika kinerja CMRY pada semester I-2026 masih mencatat pertumbuhan. Pendapatan perseroan mencapai Rp6,46 triliun, naik 25,50% secara tahunan dari Rp5,15 triliun pada semester I-2025.

Laba bersih CMRY juga meningkat 17,88% secara tahunan menjadi Rp1,17 triliun dari sebelumnya Rp0,99 triliun. Penambahan modal ke lini distribusi menjadi bagian dari langkah perseroan memperluas jangkauan produk dan mendukung aktivitas operasional.

DPUM menyiapkan belanja modal sebesar Rp100 miliar pada 2026. Rencana tersebut muncul setelah Rama Indonesia, bagian dari Unirama Group, menjadi pemegang saham pengendali baru DPUM melalui pengambilalihan 2,47 miliar saham.