"Ketidakpastian yang berkelanjutan seputar persetujuan kuota menimbulkan risiko penurunan terhadap kemampuannya untuk mencapai pertumbuhan produksi," jelas Prayugo.
Sebagai informasi, BYAN mengumumkan kondisi kahar menyusul RKAB yang belum disetujui pemerintah. RKAB ini disebut memuat revisi ke atas kuota produksi pertambangan tahunan BYAN.
Tanpa kuota yang direvisi, produksi BYAN akan turun menjadi sekitar 39 juta metrik ton (MT) pada tahun 2026 dari sekitar 68 juta MT pada tahun 2025. Meski kuota nantinya dinaikkan, ketidakpastian persetujuan RKAB tetap membuat kemampuan BYAN untuk mendapatkan alokasi produksi yang dibutuhkan menjadi kurang pasti.
Kondisi ini dapat menghambat upaya perusahaan meningkatkan produksi menuju kapasitas penuh sekitar 80 juta MT dalam beberapa tahun ke depan. Ketidakpastian tersebut juga membatasi ruang perusahaan untuk merencanakan produksi, memenuhi komitmen pengiriman, serta mencapai pertumbuhan pendapatan dan arus kas seperti yang sebelumnya diperkirakan.