BMKG menjelaskan fenomena El Nino yang sangat kuat dan IOD positif menjadi pemicu kondisi kering di Indonesia.
Pada periode 22-25 Oktober, tutupan awan dan curah hujan masih terbatas di sejumlah wilayah. Suhu udara maksimum mencapai 38 derajat Celsius atau lebih di beberapa wilayah seperti Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
Namun, kondisi atmosfer tersebut tidak seragam di seluruh Indonesia.
Sejumlah daerah justru mencatat hujan lebat hingga ekstrem, dengan curah hujan tertinggi mencapai 187 milimeter per hari di Aceh dan 103 milimeter per hari di Sumatera Utara.
Hujan juga tercatat mencapai 86,2 milimeter per hari di Jawa Barat, 80 milimeter per hari di Sumatera Barat, 78 milimeter per hari di Kepulauan Riau, 65 milimeter per hari di Papua, serta 61 milimeter per hari di Riau.
BMKG menyebut aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan sejumlah gelombang atmosfer turut memengaruhi pembentukan awan hujan.
Dalam sepekan ke depan, MJO diperkirakan memengaruhi sebagian besar wilayah Indonesia bagian barat dan selatan.
Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) diprediksi aktif di sebagian Indonesia bagian barat, sedangkan Gelombang Kelvin diperkirakan memengaruhi sebagian wilayah utara Indonesia.
Kombinasi fenomena tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan, terutama di wilayah yang mengalami pemusatan massa udara dan memiliki kondisi atmosfer labil.