Ilmuwan kebakaran dari Wageningen University & Research, Guido van der Werf, mengatakan emisi tahun ini bahkan telah jauh melampaui total emisi sepanjang 2015.
"Emisi sudah jauh lebih tinggi dibandingkan total sepanjang 2015, dan sangat mungkin tahun ini menjadi yang tertinggi dalam catatan Papua Nugini, bahkan melampaui 1997," ujar Van der Werf.
Sementara itu, di wilayah Papua bagian Indonesia, emisi karbon akibat kebakaran telah melampaui 35 megaton.
Angka tersebut merupakan yang tertinggi ketiga setelah 2015 dan 1997, dua tahun ketika fenomena El Nino turut memicu kebakaran hebat.
GFED menggunakan pemodelan berbasis data satelit, karakteristik vegetasi, dan informasi lainnya untuk memperkirakan luas kebakaran vegetasi serta emisi karbon selama hampir tiga dekade.
NASA menjelaskan perubahan pola curah hujan akibat El Nino menyebabkan sejumlah ekosistem di Papua menjadi sangat kering dan rentan terbakar.
Di bagian paling selatan Papua Nugini, khususnya kawasan sabana dan padang rumput Trans-Fly, kekeringan berlangsung lebih dari 90 hari berturut-turut tanpa hujan.
Data cuaca juga menunjukkan sejumlah wilayah hanya menerima sekitar 5 hingga 10 persen curah hujan normal sejak Agustus.
Kekeringan tersebut tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran, tetapi juga menyebabkan gagal panen, kekurangan air, dan gangguan kegiatan sekolah.
Menurut para peneliti, sebagian besar kebakaran di Papua dipicu aktivitas manusia, seperti pembakaran lahan pertanian, pemeliharaan padang penggembalaan, pembukaan hutan, dan perburuan.