Dalam kondisi normal, pembakaran tersebut dapat dilakukan secara terkendali. Namun, ketika vegetasi mengering, api lebih mudah menyebar menjadi kebakaran yang tidak terkendali.

Peneliti University of California, Irvine, Yang Chen, mengatakan aktivitas kebakaran di Papua Nugini dan Indonesia bagian timur tahun ini jauh lebih tinggi dibandingkan sejumlah wilayah Indonesia bagian barat.

"Kami melihat aktivitas kebakaran yang sangat tinggi di Papua Nugini dan Indonesia Timur, khususnya Papua Indonesia dan Kalimantan, tahun ini dibandingkan Sumatra dan wilayah Indonesia Barat lainnya," ujar Chen.

Selain faktor iklim, NASA turut menyoroti perubahan penggunaan lahan di Papua dalam dua dekade terakhir.

Pembukaan hutan di Papua Indonesia dilakukan untuk berbagai kepentingan, termasuk perkebunan kelapa sawit, tanaman bahan baku bubur kertas, pertanian skala kecil, perluasan kawasan perkotaan, dan pertambangan.

Chen menyebut Papua kini menjadi salah satu wilayah baru yang menghadapi tekanan deforestasi di Indonesia.

Data Global Forest Watch menunjukkan Papua kehilangan sekitar 27 ribu hektare hutan primer sepanjang 2025.

Luas kehilangan hutan tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan 2024 dan menjadi yang tertinggi sejak 2017.

Para peneliti memperkirakan kebakaran di Papua masih dapat berlanjut hingga hujan lebat pada musim hujan tiba di bagian selatan pulau tersebut, yang biasanya berlangsung pada awal November.