Direktur Bidang Pendidikan dan Keterampilan OECD, Andreas Schleicher turut menyampaikan kekhawatiran terhadap penurunan kemampuan membaca, khususnya yang terkait dengan penurunan keterampilan-keterampilan paling penting pada era kecerdasan buatan (AI). Keterampilan-keterampilan penting tersebut di antaranya mengevaluasi informasi, membuat keputusan, menghubungkan berbagai sumber, serta berpikir kritis pada apa yang dibaca.

Ia menyebut berdasarkan tren tahun 2018-2025, proporsi siswa yang terburu-buru dalam membaca teks dan memberi jawaban singkat tetapi salah, hampir berlipat ganda.

"Di dunia yang semakin dibanjiri informasi, murid saat ini cenderung kurang mampu berpikir mendalam dan memisahkan informasi penting dari informasi yang tidak relevan," ungkapnya, dikutip dari Puslapdik Kemendikdasmen.

Sekitar 27% siswa Indonesia baru mencapai level 2 dalam hal kemampuan membaca. Sehingga, kemampuannya jauh di bawah rata-rata negara OECD yang sebesar 69%.

Apabila didefinisikan, keterampilan membaca level 2 berarti siswa Indonesia mampu mengidentifikasi ide utama dalam teks panjang, menemukan informasi berdasarkan kriteria eksplisit meskipun terkadang kompleks, serta mampu merefleksikan tujuan dan bentuk teks saat secara eksplisit diarahkan untuk melakukannya.

Namun, di Indonesia nyaris tidak ada siswa yang mampu mencapai level 5 dalam membaca. Sedangkan di tim redaksi negara OECD, pada level tersebut rata-ratanya 6%.

Keterampilan membaca level 5 atau lebih ditafsirkan sebagai kemampuan memahami teks panjang, menghadapi konsep-konsep abstrak atau berlawanan dengan intuisi, dan membedakan tim redaksi fakta dan opini berdasarkan petunjuk implisit yang berhubungan dengan isi atau sumber informasi.