Kondisi ini tentu menjadi beban tersendiri bagi Farid. Bahkan untuk bisa bertahan dari sepinya pelanggan, ia harus beberapa kali pindah lokasi toko di pasar untuk mengurangi beban biaya sewa.
"Ya kita ambil contohnya posisi hook 2x2 ya, saya Rp 25 juta sanggup saya bayar setahun. Sekarang Rp 10 juta saya nggak sanggup bayar. Saya udah sering-sering pindah. Paling dari rute saya yang tadi ambil posisi harga turun, turun, turun, ini yang paling terendah," jelas Farid.
Bukan hanya soal penurunan jumlah pembeli, ia menjelaskan penurunan omzet ini juga terjadi akibat pemangkasan besaran keuntungan yang diambil dari penjualan setiap produk. Hal ini dilakukan agar harga barang yang dijualnya tetap murah demi menarik pelanggan.
"Jadi persennya juga kita ambil untung, kita ngambil persenan juga turun. Dulu saya ini lumayan kan persennya, kita bisa ambil misalnya 30% atau 40%. Bahkan ada produk yang untung 100%, dan itu laku. Sekarang 15% ke bawah lah, kadang masih di tawar ya kasih lah," ucapnya.
"Sekarang harga modal Rp 10.000, kadang ditawar Rp 11.000 kita kasih saja daripada nggak dibeli. Jadi untung cuma Rp 1.000, berarti 10% kan. Kalau dulu bisa kita taruh harga Rp 13.000," sambung Farid.
Kondisi serupa juga dialami oleh pedagang plastik dan tikar yang telah berjualan di kawasan Pasar Pondok Labu sejak tahun 1993 yang tak ingin disebutkan namanya. Ia mengakui jumlah pengunjung pasar saat ini tidak menentu dan cenderung sepi.
Kondisi ini sudah terjadi sejak sebelum pandemi, namun penurunan paling parah baru terjadi dalam dua tahun terakhir. Di mana kondisi pasar sepi jauh lebih buruk daripada saat pandemi Covid-19.