"Ya gini, kadang sepi kadang ramai. Jadi nggak tentu. Nah tahun ini sama tahun kemarin lah, agak-agak sepi. Omzetnya menurun lah, menurun drastis gitu," terangnya.
"habis-habis Corona 2020-2021 masih mending, 2021-2022 masih mending, 2023 masih mending, paling ini yang 2024, 2025 sama sekarang ini 2026. 2024 ya sudah turun juga tapi ya nggak parah kayak sekarang, masih mending. 2026 ini yang paling parah," katanya lagi.
Saat dikonfirmasi mengenai besaran penurunan pendapatan harian, ia membenarkan bahwa penurunan omzetnya di tokonya juga sudah mencapai 70 hingga 80%.
"Penurunannya sih kalau dipikir-pikir ya ini memang jatuh, parah juga penurunannya ya. Misalnya dari biasanya omsetnya misal ya sekitar Rp 1,5 - 2 juta, nah sekarang mah ya payah banget sih memang," tambahnya.
Di luar itu, lesunya aktivitas perdagangan pasar ini berujung pada banyaknya kios dan toko di Pasar Pondok Labu yang terpaksa tutup permanen. Banyak pemilik toko yang gulung tikar karena tidak sanggup menutup biaya sewa tempat dan beban operasional di tengah pasar yang sepi.
"Sudah banyak toko tutup di sini, ya baru-baru ini sajalah, gara-gara enggak kuat, nggak kuat bayar uang sewanya, sama nggak kuat dia jualannya. Pasar juga sepi-sepi kayak gini kagak kuat juga. Apalagi kalau pakai karyawan gaji orang," jelas pedagang plastik tersebut.