NADIKABAR.COM — Aliko Dangote yang merupakan orang terkaya di Afrika, memperluas bisnisnya dalam pembangunan kilang minyak di Kenya. Pembangunan kilang minyak senilai US$ 16 miliar atau sekitar Rp 286,4 triliun (Kurs Rp 17.900) dilakukan pada Rabu (30/9/2025) yang ditargetkan rampung pada 2030.
Adapun peletakan batu pertama pembangunan proyek ini dilakukan Dangote bersama Presiden Kenya William Ruto. Kilang ini dibangun bertujuan untuk menekan biaya bahan bakar sekaligus mengurangi ketergantungan Afrika Timur terhadap impor produk olahan minyak.
Sang miliarder itu ingin meniru kilang minyak milik grupnya yang berkapasitas 700.000 barel per hari di Nigeria. Hal ini seiring negara-negara termasuk Kenya dan Uganda berencana untuk mulai memproduksi minyak mentah.
Dangote telah menawarkan kepada pemerintah-pemerintah regional kepemilikan gabungan sebesar 30% di kilang tersebut. Saham perusahaan pengelola kilang nantinya juga akan tercatat di Bursa Nairobi.
Untuk pembangunan proyek, Dangote memberikan kontrak rekayasa senilai US$ 450 juta kepada Engineers India Limited. Sementara itu, Honeywell Technologies akan memberikan dukungan teknologi.
Dangote mengatakan, proyek tersebut akan menciptakan kemandirian energi di wilayah yang membentang dari Ethiopia hingga Mozambik dengan menggantikan impor produk olahan minyak, kata Dangote. Dangote mengatakan kilang tersebut juga akan menargetkan ekspor bahan bakar jet ke pasar Eropa dan Inggris.
"Kami sedang membuka babak baru dalam perjalanan industrialisasi Afrika menuju masa depan yang lebih cerah," ujarnya dikutip dari Reuters, Senin (5/10/2026).
Kilang akan ditopang pembangkit listrik berkapasitas 1.000 megawatt yang dibangun dalam kompleks yang sama. Kelebihan listrik dari pembangkit tersebut akan dijual kepada pelanggan lain.
Meski demikian, masih terdapat keraguan terkait pasokan minyak mentah lokal dan infrastruktur energi di kawasan tersebut. Proyek itu juga menghadapi penolakan dari kelompok pemerhati lingkungan yang khawatir proyek tersebut dapat berdampak pada Kota Tua Lamu, situs Warisan Dunia yang menjadi habitat kehidupan laut yang rentan.
Pengadilan Tinggi Kenya memerintahkan agar sebagian area situs tersebut dipertahankan sambil menunggu persidangan dalam perkara yang diajukan oleh warga setempat.
Dangote mengatakan penolakan tersebut berasal dari para pedagang dan pelaku usaha yang model keuntungannya akan terancam oleh keberadaan kilang tersebut, tetapi ia berjanji akan melawannya.
"Kami benar-benar tidak takut jika ada orang yang membawa kami ke pengadilan. Siapa pun yang ingin membuat masalah, kami siap menghadapi masalah itu dan kami akan membuatnya pusing," katanya.