"Orang tua menjadi contoh. Anak lebih cepat belajar dari mencontoh apa yang dilihatnya daripada apa yang didengarnya. Untuk itu sulit mengharapkan anak memiliki kebiasaan digital yang sehat apabila orang dewasa di sekitarnya juga terus-menerus menggunakan gadget tanpa batasan," akunya.
Adapun untuk sekolah, instansi tersebut perlu memberikan pendidikan literasi digital mencakup aspek psikologis. Mereka harus memperkenalkan anak tentang isu keamanan digital, risiko cyberbullying, pengendalian impuls, dampak bermain digital berlebihan, dan cara menghadapi tekanan sosial (teman-teman) dari lingkungan permainan digital/online.
"Anak perlu memiliki kehidupan offline yang menyenangkan dan bermakna. Ketika anak memiliki kesempatan bermain secara langsung, berolahraga, berinteraksi dengan teman, mengeksplorasi minat, dan memperoleh dukungan emosional, permainan digital/online tidak lagi menjadi satu-satunya sumber kesenangan atau satu-satunya hal yang dapat dilakukan ketika sedang merasa tertekan atau sedang merasa tidak baik," tandasnya.