NADIKABAR.COM — Dosen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) Dedy Permadi mengingatkan risiko pengenalan kecerdasan buatan (AI) secara langsung kepada siswa sekolah dasar (SD).
Menurut dia, teknologi AI berbasis large language model (LLM) dapat menghasilkan halusinasi atau informasi keliru, sementara anak-anak dinilai belum memiliki kemampuan yang cukup untuk memverifikasi kebenarannya.
Dedy mengatakan rencana memperkenalkan AI kepada siswa SD perlu ditinjau ulang. Menurut dia, penggunaan aplikasi seperti ChatGPT, Copilot, dan Gemini tanpa pendampingan serta bekal literasi yang memadai berisiko memberikan dampak buruk bagi perkembangan anak.
"LLM cenderung mengalami halusinasi. Algoritma ini bisa menghasilkan berita dan informasi palsu. Siapa yang akan memverifikasinya? Dalam prinsip AI yang berpusat pada manusia, manusia harus memeriksa hasil yang dihasilkan AI. Namun, anak-anak belum memiliki bekal yang cukup untuk memverifikasi halusinasi dari AI," kata Dedy dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea (IKJN) di Jakarta, Jumat (30/10).
Ia menjelaskan pembahasan mengenai AI dalam pendidikan perlu dibedakan menjadi dua hal, yakni AI for education dan AI education. Keduanya memiliki tujuan yang berbeda.
AI for education merujuk pada pemanfaatan AI untuk mendukung proses belajar. Misalnya, penggunaan aplikasi untuk membantu siswa penyandang disabilitas memahami materi serta penerapan sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa.
Menurut Dedy, pemanfaatan AI untuk pembelajaran personal dapat membantu mengatasi keterbatasan kapasitas dan keterampilan tenaga pengajar. Dengan bantuan teknologi, guru dapat lebih mudah menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan setiap siswa.