Jepang, menurut Dedy, juga memiliki kelas dan kurikulum khusus bagi siswa dengan kemampuan atau bakat istimewa di bidang AI. Dengan pendekatan itu, pengenalan AI dapat disesuaikan bagi siswa yang memiliki kemampuan lebih, sementara penggunaan teknologi oleh anak-anak secara umum tetap dibatasi.
"Secara umum, mereka melindungi anak-anak dari penggunaan AI. Namun, mereka juga memberikan kesempatan kepada anak-anak berbakat untuk mengembangkan keterampilannya melalui kelas dan kurikulum khusus," tutur Dedy.
Di sisi lain, Dedy menilai penggunaan AI tetap harus menerapkan prinsip human-centered AI atau AI yang berpusat pada manusia.
Prinsip ini mengharuskan manusia tetap terlibat dalam setiap tahap pengembangan dan penggunaan AI, termasuk mengawasi hasil serta keputusan yang dihasilkan teknologi tersebut.
Menurut dia, AI tak boleh dibiarkan mengambil keputusan secara mandiri tanpa pengawasan manusia. Sebab, tanggung jawab atas kesalahan yang muncul dari penggunaan teknologi tetap berada pada manusia.
"Manusia harus tetap berada dalam setiap tahapan pengembangan dan penggunaan AI. Manusia harus memegang kendali penuh atas keputusan. Jika terjadi kesalahan, pihak yang bertanggung jawab adalah manusia," tegas Dedy.