Bahkan upaya terakhir jet tersebut untuk naik, seandainya berhasil, mungkin takkan memberikan banyak hasil. Pasalnya, pesawat itu terbang menembus sistem badai konvektif tidak biasa dengan ketinggian mencapai hampir 15.240 meter, menurut data NOAA.
"Ini seperti badai masalah sangat sempurna. Anda menghadapi turbulensi, menghadapi pembentukan es, menghadapi curah hujan. Dan Anda menghadapi badai petir sangat tinggi yang tampaknya terbentuk sangat cepat," kata pengacara penerbangan Zachary S. Gorwitz.
Begitu pesawat mulai menukik tajam, hanya sedikit yang bisa dilakukan pilot, terutama karena pesawat tersebut tampaknya mulai hancur sebelum membentur tanah.
"Pada titik tersebut, saya yakin pilot mencoba menarik mundur tuas kendali dan mengangkat hidung pesawat, tapi saya yakin pada kecepatan dan sudut itu, itu tak mungkin dilakukan," kata Gorwitz.
Apa pun penyebab kecelakaan, ia meragukan hal itu terkait faktor kopilot yang masih muda. "Fakta kopilot berusia 20 tahun ini yang berbicara di radio menunjukkan bahwa pilot utama yang memegang kendali," ujarnya.