NADIKABAR.COM — Ancaman spionase terhadap Indonesia dinilai semakin kompleks seiring berkembangnya teknologi digital. Pakar keamanan siber sekaligus Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Ardi Sutedja ungkap modus spionase siber modern.

Operasi intelijen asing kini tidak hanya mengandalkan penyadapan komunikasi konvensional, tetapi juga dapat menyusup melalui infrastruktur teknologi dan rantai pasok perangkat yang digunakan pemerintah. Ardi mengingatkan bahwa metode spionase modern telah berkembang menjadi operasi siber yang lebih terstruktur dan sulit dideteksi.

Ardi menyebut salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah Advanced Persistent Threat (APT), yakni serangan siber yang dilakukan secara persisten untuk mempertahankan akses ke sistem target dalam jangka waktu tertentu.

Operasi tersebut juga dapat berkaitan dengan state-sponsored cyber espionage atau kegiatan spionase siber yang didukung negara.

"Arsitektur ancaman global telah berevolusi jauh melampaui metode penyadapan sinyal telepon konvensional," ujar Ardi dalam keterangan tertulis yang diterima NadiKabar

Disampaikannya, aktor ancaman tidak selalu melakukan serangan secara langsung dengan mendobrak sistem keamanan. Mereka dapat melakukan penetrasi secara bertahap melalui rantai pasok pengadaan teknologi pemerintah atau supply chain compromise.