Ardi juga mendorong penguatan koordinasi antara lembaga yang memiliki kewenangan di bidang intelijen dan keamanan siber.

Ardi menekankan pendekatan pertahanan siber harus bergeser dari pola pemadam kebakaran yang hanya bergerak setelah terjadi insiden menjadi sistem yang lebih antisipatif dan prediktif.

Padahal, arsitektur ancaman global telah berevolusi jauh melampaui metode penyadapan sinyal telepon konvensional. Spionase modern kini bertumpu pada serangan Advanced Persistent Threat (APT) berskala masif melalui state-sponsored cyber espionage.

Lebih lanjut, kata Ardi, Aktor-aktor ancaman ini tidak lagi sekadar mendobrak masuk, melainkan melakukan penetrasi secara halus ke dalam rantai pasok pengadaan teknologi pemerintah (supply chain compromise) dan mengekstraksi big data strategis secara terstruktur.

"Kelemahan mendasar ini terus berulang karena kita membiarkan kerentanan arsitektur informasi bersembunyi di balik apa yang disebut oleh Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) sebagai Teori Puncak Gunung Es Ketidaktahuan (Iceberg of Ignorance) di kalangan penyelenggara negara," pungkasnya.