Kerentanan tersebut berada pada PHP, bukan pada Wordpress atau plugin yang digunakan sebuah situs. Hal ini berarti situs yang sudah dikelola dengan baik sekalipun tetap berpotensi terdampak apabila server masih menggunakan PHP versi rentan dan belum diperbarui.

Lebih lanjut, Pratama belum menemukan laporan resmi soal situs besar di Indonesia yang memilih mematikan layanannya karena masalah celah keamanan PHP hingga Jumat (23/10) pagi.

Dalam pemeriksaannya, sejumlah layanan seperti pajak.go.id, dukcapil.kemendagri.go.id, dan bssn.go.id masih merespons secara normal.

"Saya cek beberapa layanan publik yang biasa dipakai banyak orang seperti pajak.go.id, dukcapil.kemendagri.go.id, dan bssn.go.id. Semuanya masih merespons normal, tidak ada indikasi pemadaman," ungkapnya.

Pratama turut menyoroti peringatan keamanan resmi yang diterbitkan oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Ia menilai respons terhadap ancaman semacam ini tidak cukup hanya mengandalkan imbauan.

Menurutnya, perlu adanya pendataan terhadap situs dan server instansi yang masih menggunakan bahasa pemrograman PHP versi rentan juga diperlukan, terutama di lingkungan pemerintah daerah dan sekolah.

Pasalnya, situs milik instansi-instansi tersebut dikelola oleh vendor kecil atau satu orang staf TI yang merangkap.

"Ribuan situs pemda dan sekolah dikelola vendor kecil atau bahkan satu orang staf TI yang merangkap. Kelompok inilah yang paling mungkin belum tahu dan paling mungkin belum memperbarui," ungkap Pratama.